Adalah maklum ketika orang yang bergelut dalam wilayah kesusastraan dan sejarah, menghasilkan teori-teori sejarah yang didasarkan pada teori estetik atau pun sebaliknya. Benedetto Croce (1866-192), merupakan salah satu yang berada dalam dua wilayah tersebut. Sekalipun tak dapat dipungkiri bahwa sastra yang lebih dominan dalam kepribadiannya.
Ia dilahirkan di Italia dari keluarga pemilik tanah yang kaya raya. Namun, keluarga dan kekayaannya berakhir pada tahun 1883 terjadi Gempa bumi di sekitar tempat tinggalnya. Croce yang selamat dari peristiwa yang merenggut banyak jiwa tersebut pindah ke Silvio Spaventa, Roma. Ia tinggal dengan pamannya.
Dua tahun ia di Roma, pindah ke Naples karena menolak tuntutan keluarganya untuk meneruskan studinya di bidang hukum tahun 1886. Sejak itulah, bakat sejarah dan sastra yang dia miliki sejak mudanya mulai dikembangkan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengembangkan bakatnya, ia menjadi pengajar pribadi yang fokus pada kajian sejarah, khususnya Italia.
Pada tahun itu pula ia berteman dengan Giovanni Gentile. Croce mempunyai peranan penting dalam pemikiran dan politik Italia. Berkat pemikiran Croce Italia berhasil bersikap netral pada perang Dunia 1. Ia juga sempat menjadi Menteri Pendidikan, yang bersama Gentile mengajukan reformasi pendidikan untuk diterapkan di Italia. Sayang, berkembangnya fasisme saat itu keduanya berpisah. Padahal pertemanan yang kurang lebih 20 tahun itu telah mengubah pola filsafat idealisme Hegel dengan menghasilkan gerakan revivalisme.
Dialektika Intelektual Croce
Dari beberapa tokoh yang dikenalkan pada Croce, oleh Antonio Labriola dan Johann Freidrich Herbart hanya Hegel dan Immanuel Kant yang punya pengaruh besar terhadap pemikirannya. Menariknya, Croce bukanlah pengagum yang membabi buta—ia mengkritik dialektikanya Hegel. Bagi Croce oposisi (berlawanan) dalam dialektika Hegel tidak ada kejelasan.
Apa yang disampaikan Hegel tidaklah sepenuhnya keliru bahwa dari oposisi-oposisi tercipta sebuah sintesa dan secara terus menerus. Akan tetapi Croce berpikir ulang untuk menangkap itu mentah-mentah. Baginya, tidak mungkin tercipta sintesa dari hal-hal yang berbeda tapi tidak berlawanan. Analogi yang ia pakai adalah kerja filsafat dan seni, wilayah seni lebih pada keindahan dan kegunaan, sementara filsafat persoalan benar dan moral. Keduanya berbeda tapi tidak berlawanan, maka praktis tidak muncul sintesa dari hal tersebut.
Perbedaan mendasar dari Kant adalah Croce meyakini bahwa dunia itu dapat terbentuk lewat perantara kesan-kesan yang kita bangun dari pengetahuan intuisi yang di miliki. Sementara Kant mengatakan pengetahuan manusia itu sesungguhnya telah hadir dengan bentuk yang pasif pada diri manusia dan lewat intuisi yang mengolah dalam struktur pemikiran manusia yang spasial dan temporal. Maka, sebenarnya persoalan waktu dan ruang yang membedakannya.
Dalam hal ini usaha Croce tersebut antara Hegel dan Kant dalam diri Croce jelas mengalami dialektika intelektual yang cukup akut dan rumit. Maka tak salah bisa ada yang mengatakan bahwa Croce dalam filsafat ia mengembangkan Hegel dan Kant menempati teori estetik yang dikembangkannya. Namun, bukan berarti peta pikir Croce yang dihasilkan adalah sintesa dari keduanya.
Intuisi dalam Peranannya
Sebagaimana dalam karyanya Aesthetics as Scaien of Expression and general linguistic 1902, ia menekankan betapa pentingnya peranan intuisi dalam mengindentifikasi sebuah karya seni. Dengan mengacu pada sistematika idealisme Hegel dan Kant yang digunakan dalam karya ini, ia mengembangkan pemikirannya. Peran intuisi dalam diri manusia adalah sebagai pijakan atas realitas hidup yang dijalaninya. Ini kemudian erat kaitannya dengan partikularitas dari roh yang dimiliki manusia sebagai upaya menganalisis terhadap keberadaannya dalam menghasilkan karya seni.
Peranan intuisi yang dimaksud Croce adalah pengetahuan sebagaimana adanya terhadap. Sehingga antara yang nyata dan tidak nyata menyatu di dalamnya. Itulah mengapa Croce mengatakan dunia terbentuk lewat kesan-kesan, dengan begitu manusia telah memberi bentuk atau representasi atas stimuli yang diterima.
Namun, meskipun intuisi dengan sendirinya bisa berdaya untuk menilai suatu karya seni, seperti membaca puisi kita tidak perlu membandingkannya dengan pengetahuan logis. Sebab aktivitas menilai (kritikus) dapat dikatakan berhasil bila ia puas terhadap apa yang dinilai. Namun, ia tetap membutuhkan logika (konsep) untuk menuntunnya pada karakteristik karya seni, maka refleksi dan kontemplasi menjadi hal penting dalam kerja ini. Dan itu pula yang akan mengklasifikasi suatu karya pada aliran tertentu.
Maka konsekuensi dari peranan penting intuisi dalam menilai adalah dalam diri kritikus tersimpan produktivitas yang pasif, layaknya seniman. Begitu sebaliknya, dalam diri seniman terdapat unsur reproduktivitas yang pasif, sebagaimana milik kritikus. Ini merupakan salah satu implikasi dari pengaruh filsafat Hegel dan Estetika Kant.
Begitu pula dalam penilaian sejarah, sejarah yang merupakan isi dengan bentuk yang diperoleh dari peranan intuisi bagi Corce. Tak ada bedanya dengan seni yang bersifat partikular. Nyata tidaknya suatu sejarah, tergantung pada ingatan kita secara subjek individu atau pun kolektif (universal). Jelas, kita juga perlu memeriksa unsur-unsurnya dalam pemikiran untuk berhasil menemukan kebenaran orisinil. Oleh karena, penilaian kita pada karya seni atau pun sejarah akan selalu berkembang seiring dengan stimuli dalam bentuk apa pun yang kita terima.
Ia dilahirkan di Italia dari keluarga pemilik tanah yang kaya raya. Namun, keluarga dan kekayaannya berakhir pada tahun 1883 terjadi Gempa bumi di sekitar tempat tinggalnya. Croce yang selamat dari peristiwa yang merenggut banyak jiwa tersebut pindah ke Silvio Spaventa, Roma. Ia tinggal dengan pamannya.
Dua tahun ia di Roma, pindah ke Naples karena menolak tuntutan keluarganya untuk meneruskan studinya di bidang hukum tahun 1886. Sejak itulah, bakat sejarah dan sastra yang dia miliki sejak mudanya mulai dikembangkan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengembangkan bakatnya, ia menjadi pengajar pribadi yang fokus pada kajian sejarah, khususnya Italia.
Pada tahun itu pula ia berteman dengan Giovanni Gentile. Croce mempunyai peranan penting dalam pemikiran dan politik Italia. Berkat pemikiran Croce Italia berhasil bersikap netral pada perang Dunia 1. Ia juga sempat menjadi Menteri Pendidikan, yang bersama Gentile mengajukan reformasi pendidikan untuk diterapkan di Italia. Sayang, berkembangnya fasisme saat itu keduanya berpisah. Padahal pertemanan yang kurang lebih 20 tahun itu telah mengubah pola filsafat idealisme Hegel dengan menghasilkan gerakan revivalisme.
Dialektika Intelektual Croce
Dari beberapa tokoh yang dikenalkan pada Croce, oleh Antonio Labriola dan Johann Freidrich Herbart hanya Hegel dan Immanuel Kant yang punya pengaruh besar terhadap pemikirannya. Menariknya, Croce bukanlah pengagum yang membabi buta—ia mengkritik dialektikanya Hegel. Bagi Croce oposisi (berlawanan) dalam dialektika Hegel tidak ada kejelasan.
Apa yang disampaikan Hegel tidaklah sepenuhnya keliru bahwa dari oposisi-oposisi tercipta sebuah sintesa dan secara terus menerus. Akan tetapi Croce berpikir ulang untuk menangkap itu mentah-mentah. Baginya, tidak mungkin tercipta sintesa dari hal-hal yang berbeda tapi tidak berlawanan. Analogi yang ia pakai adalah kerja filsafat dan seni, wilayah seni lebih pada keindahan dan kegunaan, sementara filsafat persoalan benar dan moral. Keduanya berbeda tapi tidak berlawanan, maka praktis tidak muncul sintesa dari hal tersebut.
Perbedaan mendasar dari Kant adalah Croce meyakini bahwa dunia itu dapat terbentuk lewat perantara kesan-kesan yang kita bangun dari pengetahuan intuisi yang di miliki. Sementara Kant mengatakan pengetahuan manusia itu sesungguhnya telah hadir dengan bentuk yang pasif pada diri manusia dan lewat intuisi yang mengolah dalam struktur pemikiran manusia yang spasial dan temporal. Maka, sebenarnya persoalan waktu dan ruang yang membedakannya.
Dalam hal ini usaha Croce tersebut antara Hegel dan Kant dalam diri Croce jelas mengalami dialektika intelektual yang cukup akut dan rumit. Maka tak salah bisa ada yang mengatakan bahwa Croce dalam filsafat ia mengembangkan Hegel dan Kant menempati teori estetik yang dikembangkannya. Namun, bukan berarti peta pikir Croce yang dihasilkan adalah sintesa dari keduanya.
Intuisi dalam Peranannya
Sebagaimana dalam karyanya Aesthetics as Scaien of Expression and general linguistic 1902, ia menekankan betapa pentingnya peranan intuisi dalam mengindentifikasi sebuah karya seni. Dengan mengacu pada sistematika idealisme Hegel dan Kant yang digunakan dalam karya ini, ia mengembangkan pemikirannya. Peran intuisi dalam diri manusia adalah sebagai pijakan atas realitas hidup yang dijalaninya. Ini kemudian erat kaitannya dengan partikularitas dari roh yang dimiliki manusia sebagai upaya menganalisis terhadap keberadaannya dalam menghasilkan karya seni.
Peranan intuisi yang dimaksud Croce adalah pengetahuan sebagaimana adanya terhadap. Sehingga antara yang nyata dan tidak nyata menyatu di dalamnya. Itulah mengapa Croce mengatakan dunia terbentuk lewat kesan-kesan, dengan begitu manusia telah memberi bentuk atau representasi atas stimuli yang diterima.
Namun, meskipun intuisi dengan sendirinya bisa berdaya untuk menilai suatu karya seni, seperti membaca puisi kita tidak perlu membandingkannya dengan pengetahuan logis. Sebab aktivitas menilai (kritikus) dapat dikatakan berhasil bila ia puas terhadap apa yang dinilai. Namun, ia tetap membutuhkan logika (konsep) untuk menuntunnya pada karakteristik karya seni, maka refleksi dan kontemplasi menjadi hal penting dalam kerja ini. Dan itu pula yang akan mengklasifikasi suatu karya pada aliran tertentu.
Maka konsekuensi dari peranan penting intuisi dalam menilai adalah dalam diri kritikus tersimpan produktivitas yang pasif, layaknya seniman. Begitu sebaliknya, dalam diri seniman terdapat unsur reproduktivitas yang pasif, sebagaimana milik kritikus. Ini merupakan salah satu implikasi dari pengaruh filsafat Hegel dan Estetika Kant.
Begitu pula dalam penilaian sejarah, sejarah yang merupakan isi dengan bentuk yang diperoleh dari peranan intuisi bagi Corce. Tak ada bedanya dengan seni yang bersifat partikular. Nyata tidaknya suatu sejarah, tergantung pada ingatan kita secara subjek individu atau pun kolektif (universal). Jelas, kita juga perlu memeriksa unsur-unsurnya dalam pemikiran untuk berhasil menemukan kebenaran orisinil. Oleh karena, penilaian kita pada karya seni atau pun sejarah akan selalu berkembang seiring dengan stimuli dalam bentuk apa pun yang kita terima.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar