Senin, 18 Januari 2016

Menumbuhkan Paradigma Kritik Rekonstruktif

Share it Please

https://s2.bukalapak.com/img/3/9/7/3/2/3/0/7/large/manifesto_wacana_kiri_sibukmainbuku.jpg
Indonesia berada dalam kondisi kritis, arus teknologi yang kian besar tidak mampu menfasilitasi untuk kemajuan di segala sektornya. Bisa dibandingkan, antara manfaat dan mudaratnya, lebih banyak mudaratnya yang sampai kepada kita. Prekonomian Indonesia berada pada titik yang tak menguntungkan, intelektualitas tidak bisa menjadi solusi terhadap situasi yang dialaminya. Religiusitas pun semakin terancam memudar, jika situasi seperti ini tidak cepat diatasi Indonesia akan benar-benar berada dalam posisi yang sekarat.

Modernitas yang dibayangkan memberikan pencerahan pelan-pelan justru membunuh dari dalam. Segala yang dibawa oleh modernitas dengan pluralitasnya, kebebasan berfikir dan kecanggihan akses informasi ternyata tidak baik bagi Indonesia. Hanya segelintir individu dari kehidupan komunal ini yang masih kokoh dengan cara pandangnya, selebihnya mereka seperti mesin-mesin yang dijalankan oleh modernitas.

Dalam kondisi seperti inilah, bisa dikatakan, manusia modern yang meng-andaikan pencerahan  nyatanya sudah kehilangan kekritisannya dan seolah-olah hanya berpijak pada satu nilai kebenaran. Akibatnya, dalam aspek ilmu pengetahuan, seni, pemikiran, sistem politik dan ekonomi hanya berjalan di permukaan saja, berjalan apa kadarnya. Situasi seperti itu salah satu penyebabnya adalah kehilangan daya kritisnya, sebagaimana kritik Madzhab Frankfrut terhadap positivisme yang sudah mengubah fungsi tenaga manusia dengan mesin dan mekanikal (Hal. 451).

Manusia modern seperti kapas yang ditiup angin dan hanya pasrah kemana pun diterbangkan. Maka kemudian, Nur Sayyid Santoso dengan buku “Manifesto Wacana Kiri” ingin mengajak kita untuk mulai berpikir kritis terhadap lingkungan sekitar baik dari hal yang paling sepele sampai dengan persoalan ideologis. Agar kita tidak terjerembab dalam kubangan modernisme yang mematikan.

Salah satu komponin paling penting yang bisa kita lakukan sebelum memperbaiki yang lain adalah dengan memperbaiki paradigma berpikir. Paradigma merupakan titik pijak dalam merekonstruksi pemikiran dan cara pandang sebuah persoalan yang akan termanifestasikan dalam sikap dan perilaku (Hal. 204). Lebih jauh telah dirumuskan Nur Sayyid Santoso dalam buku ini, paradigma sederhananya adalah “How to see the word” semacam kacamata untuk melihat, memaknai, menafsirkan masyarakat atau realitas sosial (Hal. 211).

Maka kemudian, kita perlu mengasah cara pandang yang sudah tumpul itu agar menjadi paradigma yang tajam. Sehingga kita mampu menentukan dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk dari apapun arah datangnya, termasuk yang didatangkan modernisme.  Sebenarnya, apa yang diusahakan Nur Sayyid Santoso merupakan usaha membangun paradigma kritis rekonstruktif.

Paradigma kritis rekonstruktif adalah analisis tajam dan membangun terhadap realitas sosial. Teori kritis sasarannya tidak hanya pada struktur sosial tetapi juga pada ideologi yang berkembang dalam masyarakat. Kalau dalam pengertian Hegel, kritis merupakan reflekski dalam upaya menempuh pergulatan panjang menuju ruh absolut. Tak jauh beda dengan Hegel, Immanuel Kant mengartikan kritis lebih menekankan pada keshahihan klaim pengetahuan (Hal. 214).

Kritik yang seperti itu sangat penting untuk diaplikasikan dalam menafsir realitas. Dalam artian teori itu tidak hanya sekadar menjadi teori kontemplasi pasif, melainkan harus aktif dan antraktif terhadap realitas. Dalam kehidupan yang kritis ini, paradigma kritis rekonstruktif menjadi hal yang paling pokok untuk menghadapi gelombang modernisme yang menghantam dari segala sisi.

Wacana pemikiran kritis yang ditawarkan Nur Sayyid Santoso ini patut diapresiasi sebagai bentuk solusi pada masa ini. Paradigma kritis yang diolah dari beragam sumber ini akan menjadi lebih baik jika fokus kajiannya tertera secara sistematis. Tidak berbentuk kumpulan makalah yang kemudian dikumpulkan dalam satu buku. Sehingga, analisisnya benar-benar kritis dan tidak berbentuk fragmenmentasi pemikiran saja.
Secara keseluruhan buku ini menarik dan penting untuk dikaji ulang oleh siapa pun. Sebab paradigma kritis itulah yang menjadi ruh dari setiap pemikiran kiri.


Judul Buku     : Manifesto Wacana Kiri
Penulis           : Nur Sayyid Santoso Kristeva, M.A
Penerbit         : Pustaka Pelajar
Cetakan         : 2015
ISBN             : 978-602-229-484-9
Tebal              : xxxii + 722 halaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar