Rabu, 20 Januari 2016

Puisi, Keluarga dan Kenang (sebuah pengantar)

Share it Please
Atas nama penerima beasiswa Bidik Misi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, kita ucapkan puji syukur kepada Allah yang Maha Esa. Berkat rahmat Tuhanlah buku antologi puisi berjudul Perjalanan Doa ini akhirnya bisa terbit dan sampai di tangan kita, meski barangkali belum layak dibilang sesempurna. Begitulah manusia, tak pernah puas dengan yang diperolehnya. Namun paling tidak, buku antologi ini bisa kita nikmati bersama, sebagai kenangan manis bagi perjalanan berikutnya.

Setelah Bidik Misi mempertemukan kita di dunia akademika: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tak ada lain yang tergenang dalam benak kita, selain kebahagiaan, kekeluargaan serta rasa saling memiliki dan mengasihi. Barangkali, karena kita mempunyai nasib yang sama; Tuhan mempertemukan kita untuk saling membantu satu dengan yang lainnya. Sekalipun kita tidak tinggal dalam satu asrama, tidak berkumpul setiap hari, alhamdulillah rasa simpati dan empati tetap tumbuh subur di hati kita. Setidak-tidaknya, melalui sehimpun puisi ini, kita berharap jalinan silaturahmi bisa tetap kita jaga bersama sampai tak tertentukan batas waktunya.

Buku antologi puisi ini, dirancang tanpa maksud mendeklarasikan diri sebagai sastrawan atau penyair. Sebab, kita sadar mempunyai potensi yang berbeda-beda. Maka sebenarnya, dengan puisi kita berharap dapat menanam kenang yang lebih dalam, lebih suci dan abadi. Sehingga doa-doa kita terus mengalir satu sama lain sampai tak ada hitam dan putih, hilang jarak hilang sekat.

Mungkin, mengambil puisi sebagai antologi kali ini terlalu sepihak. Walaupun tak semua penerima beasiswa Bidik Misi di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga terkumpul dalam antologi ini, tetapi kita yakin kebersamaan dan kekeluargaan tak akan pernah terpisahkan. Banyak yang mengamini bahwa, karya sastra khususnya puisi mempunyai hubungan batin yang kuat antara sang pencipta puisi dengan pembacanya. Sebagaimana Roland Barthes mengandaikan pembaca akan mendapatkan kenikmatan tersendiri dari teks sastra yang dibaca. Puisi merupakan hubungan interpersonal, cermin dari kepribadian seseorang sehingga ia pun mampu memberi bekas pada setiap jejaknya (yang membaca).

Dalam puisi ini kita sengaja tidak banyak menulis tentang romantisme, atau rasa cinta kekeluargaan sebagaimana  tujuan dari antologi ini. Namun, kita mencoba menyoroti kondisi sosial dan kenegaraan, lebih-lebih kerinduan kita akan spiritualitas yang tinggi. Kerinduan akan limpah kasih sayang Allah, kerinduan yang dirasakan setiap insan, entah ia seorang atheis, tak dapat dibohongi ia akan tetap rindu pada yang supranatural (Muhammad Al-Fayyadl, 2012).

Buku antologi yang sebenarnya program dari Divisi Media dan Jaringan Komunikasi dalam organisasi kekeluargaan Bidik Misi yang diberi nama Assaffa (Association of Schoolarship Students of Ministry of National Education Affair) adalah berawal dari kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan pada waktu yang akan memisahkan kita. Antologi puisi ini dipilih sebagai medium untuk mengekalkan kenangan yang terlanjur kita tanam. Sebab segalanya menjadi lebih kekal bila dikenang. Jika Thomas Hobbes (1588-1679) mengatakan, “Ibuku melahirkan dua bayi kembar, aku dan ketakutan” maka kita pun bisa mengatakan “Ibu kami melahirkan dua bayi kembar; kami dan kenangan”.

Adalah suatu kemungkinan, setelah antologi puisi ini terbit akan ada buku-buku antologi lain (cerpen, esai dan lain-lain) di kepengurusan 2014. Atau kegiatan lain yang sekiranya semakin membuat setiap senyum, sikap, cara bicara tetap kekal di pikiran. Dan terakhir, dari Divisi Media dan Jaringan Komunikasi menghaturkan terima kasih kepada teman-teman yang puisinya termaktub dalam antologi ini, juga pada mereka para pembaca. Semoga apa yang kita tulis ini benar-benar memberi kesan-pesan positif dan bermanfaat untuk semua. Amien.

Yogyakarta, 2013

*Tulisan ini ditulis dalam memberi pengantar pada Antologi Puisi anak bidik misi UIN Sunan Kalijaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar