Fa,
Aku memanggilmu, di kafe itu
Hanya ingin menulis puisi
dan merasakan harum surga dari hatimu
Kuseduh wajahmu bersama ruap kopi
Dalam botol dan gelas yang setengah kosong
Fa,
Imaji akan kelopak malam denganmu
Membubung langit sebagai cakrawala
Menyihir waktu lahir kembali
Dari alismu yang runcing
Puisi menusuk-nusuk belaka tulang rusuk
Dan menjadikanmu sajak dari abjad yang suci
Di kafe itu
Di antara orang-orang
Yang menyudahi cakap dalam senyap
Aku termagu, memandangmu bak dalam botol
Senyum merekah dari bibirmu
Deru napas mendesak
membawa khayalku ke relung jiwa
Kau tahu, Fa?
Hanya darimu kutemukan sajak paling puisi
Bahkan seribu tahun lagi
Wajahmu tetap sajak yang kutulis
Seperti katamu
Dengan puisi telah kurayu gadis-gadis
Setelah pertemuan ini, kita tak akan berpisah lagi, bukan?
Sebab, wajahmu bersemayam dalam hati
Yogyakarta 15 Januari 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar