Rabu, 20 Januari 2016

Puisi Gadis Botol Untuk F a (I)

http://cdn.klimg.com/merdeka.com/i/w/photonews/2013/02/16/152633/640x320/20130216114700-para-wanita-pelaku-kriminal-dipamerkan-dalam-lukisan-001-iqbal-s-nugroho.jpg
Fa,
Aku memanggilmu, di kafe itu
Hanya ingin menulis puisi
dan merasakan harum surga dari hatimu
Kuseduh wajahmu bersama ruap kopi
Dalam botol dan gelas yang setengah kosong

Fa,
Imaji akan kelopak malam denganmu
Membubung langit  sebagai cakrawala
Menyihir waktu lahir kembali
Dari alismu yang runcing
Puisi menusuk-nusuk belaka tulang rusuk
Dan menjadikanmu sajak dari abjad yang suci

Di kafe itu
Di antara orang-orang
Yang menyudahi cakap dalam senyap
Aku termagu, memandangmu bak dalam botol
Senyum merekah dari bibirmu
Deru napas mendesak
membawa khayalku ke relung jiwa

Kau tahu, Fa?
Hanya darimu kutemukan sajak paling puisi
Bahkan seribu tahun lagi
Wajahmu tetap sajak yang kutulis
Seperti katamu
Dengan puisi telah kurayu gadis-gadis

Setelah pertemuan ini, kita tak akan berpisah lagi, bukan?
Sebab, wajahmu bersemayam dalam hati

Yogyakarta 15 Januari 2013
Continue Reading...

Puisi, Keluarga dan Kenang (sebuah pengantar)

Atas nama penerima beasiswa Bidik Misi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, kita ucapkan puji syukur kepada Allah yang Maha Esa. Berkat rahmat Tuhanlah buku antologi puisi berjudul Perjalanan Doa ini akhirnya bisa terbit dan sampai di tangan kita, meski barangkali belum layak dibilang sesempurna. Begitulah manusia, tak pernah puas dengan yang diperolehnya. Namun paling tidak, buku antologi ini bisa kita nikmati bersama, sebagai kenangan manis bagi perjalanan berikutnya.

Setelah Bidik Misi mempertemukan kita di dunia akademika: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tak ada lain yang tergenang dalam benak kita, selain kebahagiaan, kekeluargaan serta rasa saling memiliki dan mengasihi. Barangkali, karena kita mempunyai nasib yang sama; Tuhan mempertemukan kita untuk saling membantu satu dengan yang lainnya. Sekalipun kita tidak tinggal dalam satu asrama, tidak berkumpul setiap hari, alhamdulillah rasa simpati dan empati tetap tumbuh subur di hati kita. Setidak-tidaknya, melalui sehimpun puisi ini, kita berharap jalinan silaturahmi bisa tetap kita jaga bersama sampai tak tertentukan batas waktunya.

Buku antologi puisi ini, dirancang tanpa maksud mendeklarasikan diri sebagai sastrawan atau penyair. Sebab, kita sadar mempunyai potensi yang berbeda-beda. Maka sebenarnya, dengan puisi kita berharap dapat menanam kenang yang lebih dalam, lebih suci dan abadi. Sehingga doa-doa kita terus mengalir satu sama lain sampai tak ada hitam dan putih, hilang jarak hilang sekat.

Mungkin, mengambil puisi sebagai antologi kali ini terlalu sepihak. Walaupun tak semua penerima beasiswa Bidik Misi di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga terkumpul dalam antologi ini, tetapi kita yakin kebersamaan dan kekeluargaan tak akan pernah terpisahkan. Banyak yang mengamini bahwa, karya sastra khususnya puisi mempunyai hubungan batin yang kuat antara sang pencipta puisi dengan pembacanya. Sebagaimana Roland Barthes mengandaikan pembaca akan mendapatkan kenikmatan tersendiri dari teks sastra yang dibaca. Puisi merupakan hubungan interpersonal, cermin dari kepribadian seseorang sehingga ia pun mampu memberi bekas pada setiap jejaknya (yang membaca).

Dalam puisi ini kita sengaja tidak banyak menulis tentang romantisme, atau rasa cinta kekeluargaan sebagaimana  tujuan dari antologi ini. Namun, kita mencoba menyoroti kondisi sosial dan kenegaraan, lebih-lebih kerinduan kita akan spiritualitas yang tinggi. Kerinduan akan limpah kasih sayang Allah, kerinduan yang dirasakan setiap insan, entah ia seorang atheis, tak dapat dibohongi ia akan tetap rindu pada yang supranatural (Muhammad Al-Fayyadl, 2012).

Buku antologi yang sebenarnya program dari Divisi Media dan Jaringan Komunikasi dalam organisasi kekeluargaan Bidik Misi yang diberi nama Assaffa (Association of Schoolarship Students of Ministry of National Education Affair) adalah berawal dari kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan pada waktu yang akan memisahkan kita. Antologi puisi ini dipilih sebagai medium untuk mengekalkan kenangan yang terlanjur kita tanam. Sebab segalanya menjadi lebih kekal bila dikenang. Jika Thomas Hobbes (1588-1679) mengatakan, “Ibuku melahirkan dua bayi kembar, aku dan ketakutan” maka kita pun bisa mengatakan “Ibu kami melahirkan dua bayi kembar; kami dan kenangan”.

Adalah suatu kemungkinan, setelah antologi puisi ini terbit akan ada buku-buku antologi lain (cerpen, esai dan lain-lain) di kepengurusan 2014. Atau kegiatan lain yang sekiranya semakin membuat setiap senyum, sikap, cara bicara tetap kekal di pikiran. Dan terakhir, dari Divisi Media dan Jaringan Komunikasi menghaturkan terima kasih kepada teman-teman yang puisinya termaktub dalam antologi ini, juga pada mereka para pembaca. Semoga apa yang kita tulis ini benar-benar memberi kesan-pesan positif dan bermanfaat untuk semua. Amien.

Yogyakarta, 2013

*Tulisan ini ditulis dalam memberi pengantar pada Antologi Puisi anak bidik misi UIN Sunan Kalijaga.

Continue Reading...

Senin, 18 Januari 2016

Menumbuhkan Paradigma Kritik Rekonstruktif


https://s2.bukalapak.com/img/3/9/7/3/2/3/0/7/large/manifesto_wacana_kiri_sibukmainbuku.jpg
Indonesia berada dalam kondisi kritis, arus teknologi yang kian besar tidak mampu menfasilitasi untuk kemajuan di segala sektornya. Bisa dibandingkan, antara manfaat dan mudaratnya, lebih banyak mudaratnya yang sampai kepada kita. Prekonomian Indonesia berada pada titik yang tak menguntungkan, intelektualitas tidak bisa menjadi solusi terhadap situasi yang dialaminya. Religiusitas pun semakin terancam memudar, jika situasi seperti ini tidak cepat diatasi Indonesia akan benar-benar berada dalam posisi yang sekarat.

Modernitas yang dibayangkan memberikan pencerahan pelan-pelan justru membunuh dari dalam. Segala yang dibawa oleh modernitas dengan pluralitasnya, kebebasan berfikir dan kecanggihan akses informasi ternyata tidak baik bagi Indonesia. Hanya segelintir individu dari kehidupan komunal ini yang masih kokoh dengan cara pandangnya, selebihnya mereka seperti mesin-mesin yang dijalankan oleh modernitas.

Dalam kondisi seperti inilah, bisa dikatakan, manusia modern yang meng-andaikan pencerahan  nyatanya sudah kehilangan kekritisannya dan seolah-olah hanya berpijak pada satu nilai kebenaran. Akibatnya, dalam aspek ilmu pengetahuan, seni, pemikiran, sistem politik dan ekonomi hanya berjalan di permukaan saja, berjalan apa kadarnya. Situasi seperti itu salah satu penyebabnya adalah kehilangan daya kritisnya, sebagaimana kritik Madzhab Frankfrut terhadap positivisme yang sudah mengubah fungsi tenaga manusia dengan mesin dan mekanikal (Hal. 451).

Manusia modern seperti kapas yang ditiup angin dan hanya pasrah kemana pun diterbangkan. Maka kemudian, Nur Sayyid Santoso dengan buku “Manifesto Wacana Kiri” ingin mengajak kita untuk mulai berpikir kritis terhadap lingkungan sekitar baik dari hal yang paling sepele sampai dengan persoalan ideologis. Agar kita tidak terjerembab dalam kubangan modernisme yang mematikan.

Salah satu komponin paling penting yang bisa kita lakukan sebelum memperbaiki yang lain adalah dengan memperbaiki paradigma berpikir. Paradigma merupakan titik pijak dalam merekonstruksi pemikiran dan cara pandang sebuah persoalan yang akan termanifestasikan dalam sikap dan perilaku (Hal. 204). Lebih jauh telah dirumuskan Nur Sayyid Santoso dalam buku ini, paradigma sederhananya adalah “How to see the word” semacam kacamata untuk melihat, memaknai, menafsirkan masyarakat atau realitas sosial (Hal. 211).

Maka kemudian, kita perlu mengasah cara pandang yang sudah tumpul itu agar menjadi paradigma yang tajam. Sehingga kita mampu menentukan dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk dari apapun arah datangnya, termasuk yang didatangkan modernisme.  Sebenarnya, apa yang diusahakan Nur Sayyid Santoso merupakan usaha membangun paradigma kritis rekonstruktif.

Paradigma kritis rekonstruktif adalah analisis tajam dan membangun terhadap realitas sosial. Teori kritis sasarannya tidak hanya pada struktur sosial tetapi juga pada ideologi yang berkembang dalam masyarakat. Kalau dalam pengertian Hegel, kritis merupakan reflekski dalam upaya menempuh pergulatan panjang menuju ruh absolut. Tak jauh beda dengan Hegel, Immanuel Kant mengartikan kritis lebih menekankan pada keshahihan klaim pengetahuan (Hal. 214).

Kritik yang seperti itu sangat penting untuk diaplikasikan dalam menafsir realitas. Dalam artian teori itu tidak hanya sekadar menjadi teori kontemplasi pasif, melainkan harus aktif dan antraktif terhadap realitas. Dalam kehidupan yang kritis ini, paradigma kritis rekonstruktif menjadi hal yang paling pokok untuk menghadapi gelombang modernisme yang menghantam dari segala sisi.

Wacana pemikiran kritis yang ditawarkan Nur Sayyid Santoso ini patut diapresiasi sebagai bentuk solusi pada masa ini. Paradigma kritis yang diolah dari beragam sumber ini akan menjadi lebih baik jika fokus kajiannya tertera secara sistematis. Tidak berbentuk kumpulan makalah yang kemudian dikumpulkan dalam satu buku. Sehingga, analisisnya benar-benar kritis dan tidak berbentuk fragmenmentasi pemikiran saja.
Secara keseluruhan buku ini menarik dan penting untuk dikaji ulang oleh siapa pun. Sebab paradigma kritis itulah yang menjadi ruh dari setiap pemikiran kiri.


Judul Buku     : Manifesto Wacana Kiri
Penulis           : Nur Sayyid Santoso Kristeva, M.A
Penerbit         : Pustaka Pelajar
Cetakan         : 2015
ISBN             : 978-602-229-484-9
Tebal              : xxxii + 722 halaman

Continue Reading...

Kamis, 14 Januari 2016

Jarak

http://b2.img.mobypicture.com/d2a01d89babd0093dab170a8f16999e1_view.jpg

Eliza, kau tak pernah tau.
Miliaran jarak yang kau ciptakan untukku,
Semakin menyatukanku dengan rindu.
Pulanglah ke hatiku.
Rindu itu merong-rong kerontang,
Mengelu-elukan namamu tiada kurang.
Pada setiap kepaknya, sekian sajak tumbuh.
Serupa kembang mawar,
:durinya menusuk jiwaku berungkali.

Aduh Eliza!
Mengapakah dulu, kau menulis cinta pada batu.
Dan, kau lemparkan padaku
Saat ini aku dilemparkan ke rindu setiap waktu.
Dari tubuhku. darah-darah mengalir tanpa luka,
dari mataku, dari hidungku, yang pernah kau cium itu.

Eliza, apakah tak ada perjumpaan kedua
Barangkali ada sisa ciuman yang mengajakmu
Duduk berdua di beranda, menatap jarak yang menyejarah

Yogyakarta

Continue Reading...

Napak Tilas Kemerdekaan untuk Perdamaian

https://restlessangel.files.wordpress.com/2009/08/merah-putih-di-puncak.jpg
Hari kemerdekaan adalah hari kebahagiaan yang nyata. Begitu kira-kira yang dirasakan oleh Bangsa Indonesia saat merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Jika Sartre bilang bahwa orang lain itu neraka, jelas ada benarnya. Sekalipun konteknya pun berbeda. Bagaimana tidak, Indonesia yang selama bertahun-tahun terkurung dalam genggaman penjajah, akan sangat terasa bahwa pada saat itu orang lain (penjajah) adalah neraka bagi rakyat Indonesia. Tapi, akhirnya bisa juga melepaskan petaka yang semakin hari mengiris hati.

Indonesia Merdeka bukan tanpa alasan, Indonesia merdeka karena satu tangan dengan tangan yang lain, satu suku dengan suku yang lain, satu agama dengan agama yang lain saling memangku tangan untuk melawan penjajahan. Adalah mustahil untuk merdeka tanpa kerja sama. Kalau di Bukunya Deliar Nour Pemikiran Modern Islam Indonesia, seakan-seakan ingin mengatakan bahwa nasionalisme Indonesia itu adalah nasionalisme Islam. Sebab, perlawanan terhadap penjajah dimulai dari lahirnya Syarikat Islam, yang awalnya pun terkumpul karena Sayarikat Dagang Islam.

Boleh jadi itu memang benar adanya, pada saat itu Islam mampu menyatukan beragam paradigma, mampu menyatukan ideologi yang berbeda-beda dari banyak budaya. Langkah-langkah itu pun terlihat hasilnya, karena tujuannya sama, mengusir penjajah dari tanah tercinta.

Tapi kemudian, setelah Indonesia mampu mengusir para kolonel, setiap orang berhak atas haknya. Seperti kata Soekarno, masalah besar akan muncul lagi yaitu melawan kaum kita sendiri, perang saudara terjadi. Sebenarnya apa yang menyebabkan itu terjadi, satu-satunya alasan adalah bahwa kita tidak satu arah lagi, kita lebih pada kepentingan pribadi. Apakah dulu tidak ada konflik? Dulu ada, tapi itu hanya sebatas pada perang wacana saja yang dampaknya pun berbeda, mencerdaskan dan menawarkan solusi.

Jauh dengan sekarang, Indonesia semakin lama merdeka, Indonesia semakin banyak membiakkan budaya konflik terus saja membusungkan dada. Indonesia semakin kacau balau menghadapi budayanya sendiri. Memang sudah hukum alam, bahwa budaya bermata dua, satu melihat dengna terbuka, satu melihat dengan mata terpejam, dan konsekuensinya pun tidak sama.
https://www.google.com/
Lalu apa yang dapat kita lakukan, bila ternyata perdamaian hanyalah kata yang menggantung di angkasa? Masih ada harapan, pada hari kemerdekaan, semua suku dan agama akan berkumpul dalam satu lapangan untuk memperingati hari proklamasi kemerdekaan, lalu kenapa tidak terjadi pertengkaran pada saat itu? Jawabannya satu, karena mereka satu arah “memperingati hari kemerdekaan”.

Sayangnya, pada saat mayoritas hanya mengingat jasa-jasa para pahlawan, kita hanya menonton film-film dokomenter kemerdekaan, tanpa berpikir kenapa mereka bersama dan kenapa sekarang justru seakan-seakan bercerai berai? Prosesi hari kemerdekaan sepertinya hanya sebatas formalitas saja, agar bangsa dibilang tidak melupakan jasa para pendirinya. Padahal, memperingati hari kemerdekaan tidak hanya ingin melihat kembali perjuangan di masa itu, tapi juga memulai berjuang untuk menyatukan kembali bangsa yang bercerai berai. Ini yang sering dilupakan?

Satu hal yang mungkin menarik untuk kita lakukan pada saat hari kemerdekaan, mereka tidak perlu memakai pakaian yang sama saat upacara kemerdekaan, mereka tidak perlu seformal mungkin untuk memperngati seperti biasanya. Tapi, biarkan mereka merayakan kemerdekaan dengan adat dan budaya masing-masing baik di satu tempat atau di tempat yang berbeda. Ini bukan persoalan tidak seragam, tapi bagaimana bisa menerima meski berbeda. Sebab, keseragaman tidak melulu melahirkan perdamaian kalau di dalamnya masih lekat dengan kepentingan-kepentingan.

Contohnya banyak, islam sama islamnya pun saling menyalahkan, bagaimana bisa damai? Sekte-sekte yang lahir sama-sama memperjuangkan kebenaran menurut kelompoknya. Padahal, ada perkataan seperti ini; Ikhtilafu al ulama rahmatu al alamin atau ikhtilafu al ummati rahmatun. Dalam islam, perbedaan itu seharusnya menjadi rahmat bagi semua alam. Tidak perlu menyakinkan diri bahwa kelompkok ini yang benar dan kelompok itu yang salah, sebab kebenaran Tunggal hanya ada pada Tuhan.

Jadi yang membuat sesuatu yang satu dengan sesuatu yang lain itu bersebrangan yang disebabkan salah tafsir misalnya, itu hanya karena mereka tidak mau saling menerima dan mengakui tafsir lain kecuali tafsirnya sendiri. Budaya pun sama, mereka tidak berdamai karena mereka anggap budaya mereka saja yang benar dan tidak mau belajar pada budaya lain. Apakah itu sebatas angan? Tidak, itu adalah fakta yang terjadi saat ini. Maka, di momentum kemerdekaan ini adalah baik bila apa yang saya tawarkan itu dapat terlaksana.
Continue Reading...

Rabu, 13 Januari 2016

Tembang Perempuan

http://3.bp.blogspot.com/

Aku perempuan yang kau telanjangi pada malam
purnama di tanganku kau senggama
tiba-tiba kelelawar mengelilingi dirimu yang sibuk
menjilati dada dan perutku

malam masih lelap dan tak kuasa aku dekap
dari kepak sayap kelelawar
wajahku membubung ke langit
bumi memandangi sebagai yang abadi
tempat segala yang puji
tidak harus menjadi bidadari untuk dicintai

pada tubuhku orang-orang meminta perlindungan
dari derita dan nestapa
bunga-bunga kutanam di mataku
biarlah mereka menghirup harumnya
meski tidak ada yang disembah
aku akan kembali telanjang
untuk kehidupan sebagai Tuhan

Desember 2012
Continue Reading...

Membidik Mentalitas Anak Didik

http://www.astaginapraptama.com/
Manusia diciptakan dengan potensi yang beragam. Apakah kemudian ia menjadi bodoh atau pintar—adalah pertanyaan “siapakah yang mendidiknya?”. Pertanyaan serupa sering kita dengar “siapa gurunya?” sebuah pertanyaan yang dilontarkan ketika melihat ada seorang anak yang mempunyai sifat tercela. Sebuah indikasi bahwa kerakter seorang anak dibentuk oleh seirang guru.

Jelas, anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Bahkan bisa jadi salah. Guru memang mempunyai peran penting dalam konstruksi mentalitas anak, tapi juga tidak patut menyerahkan sepenuhnya kepada guru. Ingat, orangtua, lingkungan sekitar merupakan ladang basah bagi mentalitas seorang anak. Mereka punya peran yang sama sebagaimana guru; untuk mengawasi dan membimbing menjadikan mentalitas anak semakin berkembang baik.

Maka sudah jadi rahasia umum, bahwa kecerdasan manusia juga tidak sepenuhnya pemberian Tuhan. Semua ada proses yang harus dilalui. Bila ada manusia yang cerdas sejak ia anak-anak atau bahkan balita, itu karena orangtua dan lingkungannya yang menjadikan demikian. Sebenarnya proses pembentukan karakter anak tidak serta merta ketika ia sudah lahir, banyak bergaul dengan orang-orang pintar, ada pembimbingan dari guru dan orangtua. Semua itu memang penting, tapi yang lebih penting lagi jauh sebelum ia dilahirkan, yaitu ketika masih dalam kandungan.

Dalam tradisi Islam wanita yang sedang hamil dianjurkan banyak beribadah dan berdoa. Bahkan sering-sering dibacakan al-qur’an untuk merangsang daya kecerdasan otaknya. Sebab, segumpal daging (janin) dalam perut perempuan itu mempunyai kepekaan terhadap apa pun terhadap aktivitas ibunya. Sehingga anak yang lahir menjadi anak yang shalih atau shalihah serta mempunyai intlektual yang tinggi.

Abu Daud dan Al-Tirmidzy meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah mengumandangkan Adzan di telinga Hasan Bin Ali ketika istri beliau (Fatimah) melahirkannya. Selain ada makna-makna religiusitas yang terkandung. Sikap Rasulullah tersebut juga menandakan bahwa pendengaran bayi saat itu sudah berfungsi.

Maka kemudian, salah satu tugas orang tua adalah memberi stimulus lewat pendengarannya sejak dalam kandungan. Pendengaran terbukti mampu mencondongkan pikiran manusia pada arah tertentu. Imam Syafi’i yang hafal Al-qur’an dalam usia muda, karena peran ibunya yang memperdengarkan Al-qur’an semenjak Imam Syafi’i masih dalam kandungan.

Selain dianjurkan menjaga kesehatan ruhani, wanita hamil juga dianjurkan menjaga kesehatan jasmani, semisal olah raga dan makan-makanan bergizi. Di mana hal itu juga berdampak pada kesehatan bayi. Dadang Hawari (2000) mengatakan, salah satu faktor dari tumbuh kembangnya mental intelektual dan emosional anak banyak ditentukan oleh perkembangan susunan syaraf pusat (otak) dan kondisi organ tubuh lainnya. Oleh karena pola pikir dan pola makan orang tua semasa mengandung sangat mempengaruhi mentalitas janinnya.

Ironisnya, banyak yang mengabaikan, seolah-olah IQ yang dimiliki anak adalah murni pemberian Tuhan. Padahal sebagaimana yang telah ditetapkan, bahwa Tuhan hanya memberikan ruh dan nyawa selebihnya adalah usaha manusia. Kecerdasan manusia bukan takdir layaknya kematian, melainkan diciptakan dan diusahakan.

Pembimbingan dari orangtua tentu tidak terputus di situ, melainkan harus terus berlanjut pada fase selanjutnya. Di usia 40 hari di bumi, biasanya bayi sudah dapat menggunakan indra penglihatannya. Juga penciuman, perabaan dan pengecapan. Di saat- saat seperti itu kepekaannya terhadap sesuatu yang dilihat sangat kuat.  Sehingga, orang tua perlu memberikan hal-hal yang menarik dan unik agar bayi bisa cerdik. Jangan heran bila ada anak manusia yang ditaruh di kandang sapi tidak bisa berbicara layaknya manusia. Atau Tarzan yang hidupnya dalam hutan, hanya bisa bicara dengan sebangsa hewan.

Sydis seorang ahli psikis menunjukkan bahwa kalau anak menerima stimulasi yang kaya melalui fungsi penglihatannya, maka kecerdasannya akan tumbuh kembang secara pesat. Teori itu diterapkan kepada anaknya sendiri, yaitu William James Sydis dan terbukti di usia yang sangat muda dia sudah menjadi Profesor. Setali lurus dengan Zakiah Daradjat bahwa anak-anak belajar lewat penglihatan sebanyak 83%, pendengaran 11%, penciuman, pengecapan dan sentuhan 6% (H. Fuad Nashori, 2003 : 144).

Penglihatan dan pendengaran sangat mempengaruhi kecerdasan anak baik saat dalam kandungan atau pun pada fase-fase selanjutnya. Pada fase anak-anak, di mana saat semua indranya berfungsi dengan baik, akan tumbuh semakin peka terhadap lingkungannya. Melalui eksplorasi yang dilakukan terhadap dunia sekitar akan memperkuat dasar-dasar pengetahuan anak.

Oleh karena, pangkal dari semua daya pikir yang cerdas dan sikap yang bijak dalam diri manusia adalah tergantung pada prosesna asuhannya, lebih-lebih dari orangtua. Sehingga, ketika seorang anak tidak cerdas, tidak melulu memojokkan guru atau pun instansi pendidikan. Argumen-argumen di atas dapat dijadikan pijakan bahwa, pembentukan mentalitas sejak usia dini merupakan pendidikan yang paling penting dalam kehidupan manusia.

Pada saat itulah, proses pembidikan karakter manusia dimulai. Setidaknya dengan demikian telah mengurangi beban sekolah dalam mengembangkan dan menjaga potensi mental pengetahuan yang telah dimiliki. Sebab di usia yang masih rentan itu, mentalitas akan mudah hilang dan tidak terarah karena didikan dan pergaulan yang salah.

Continue Reading...

Selasa, 12 Januari 2016

Logika, Upaya Rasionalitas Pengetahuan

Logika merupakan salah satu jalan manusia memecahkan persoalan yang dilematis, oleh karena logika tidak hanya perlu dipelajari oleh para filsuf atau akademisi. Melainkan, logika penting diketahui oleh mereka yang ingin menemukan kebenaran-kebenaran yang logis. Atau pun melogiskan kebenaran. Itulah faktor utama logika dipelajari. Sekalipun, kadang kala logika tidak mampu menjamah kebenaran iman. Ini persoalan lain.

Secara harfiah logika searti dengan mantiq dalam bahasa Arab, yang berarti perkataan, ucapan atau pikiran yang diucapkan atau dikatakan. Dalam buku ini, Hidanul Ichwan Harun mendevinisikan logika sebagai suatu ilmu yang mempelajari norma-norma menalar yang benar, agar memperoleh pengetahuan yang baru (hal. 4). Dengan begitu berarti, logika semisal pisauyang digunakan untuk mengupas sesuatu. Logika merupakan alat untuk mengupas, dan meluruskan penalaran-penalaran yang salah.

Potensi manusia untuk menalar atau berpikir itu sudah ada sejak ia dilahirkan bahkan. Sebagaimana ia (manusia) berpotensi sebelum ia dilahirkan. Kemampuan berpikir atau mengetahui itu akan menjadi keliru bila tidak ada bimbingan dari logika berpikir. Bahkan sesuatu yang imajiner sekalipun, ia membutuhkan kerangka logika. Puisi misalnya, yang harus patuh pada lensia puitika, sebuah aturan logis agar puisi dapat bermakna dan dipahami, baik dari unsur estetiknya, atau subtansinya.

Niscaya manusia adalah makhluk sosial, di mana ia akan menghadapi segala bentuk peristiwa dualistik yang butuh dicerna, butuh diputuskan. Sehingga logika dibutuhkan untuk mengetahui apakah sesuatu yang diputuskan benar atau salah. Lebih-lebih dalam lingkaran akademis, yang sarat akan analisis ilmiah dan filsafat. Tak hayal peran logika menjadi sangat penting, di samping hal lain yang juga penting dalam memperoleh pengetahuan.

Hidanul Ichwan menjabarkan bahwa dalam berpikir manusia bergerak secara rohani dengan akal budinya. Dari satu putusan pikiran bergerak ke putusan yang lain dan bahkan bergerak ke arah putusan yang baru (hal. 61). Hidup bagi manusia tak lain dari himpunan keputusan-keputusan yang tiada berakhir. Di mana, keputusan-keputusan tersebut tidak hanya dalam bentuk bahasa tulis atau lisan, melainkan juga tindakan. Sebab, bahasa mengandung simbol-simbol yang memang harus dipecahkan oleh logika.

Dalam menentukan (memutuskan) suatu perkara dalam realitas ada beberapa perinsip yang harus dipegang. Oleh karena dalam berpikir kita harus tetap mengikat hukum-hukum realitas. Sebab putusan yang diambil tanpa berpegangan pada prinsip logis, ia tidak akan menemukan pengetahuan baru.

Di antara beberapa prinsip itu adalah; 1. Perinsipium identitas (asas Kesamaan), 2. Perinsipium individuasionis (asas keindividuan), 3. Perinsipium kontradiktoris (asas pertentangan), 4. Perinsipium eklusi terti (asas menolak kemungkinan), 5. Perinsipium rationis sufficientis (kecukupan) (hal.62). Semua perinsip ini merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan suatu putusan, baik dalam metode induksi ataupun deduksi.

Keputusan-keputusan yang diambil baik dari umum ke khusus (deduksi) atau dari khusus ke umum (induksi) adalah peristiwa yang saling berkaitan. Bahkan, keputusan yang khusus itu bukan lahir dari tiada sama sekali, namun ia berada dalam lingkup keputusan yang umum. Misal, Penyair akan mati (keputusan khusus). Sementara keputusan umumnya, manusia akan mati. Karena penyair juga manusia makan ia pun akan mati. Jadi keputusan khusus sebagai penegasan dari keputusan yang telah ada (umum).

Salah satu contoh tersebut merupakan bentuk silogisme. Di mana, buku ini ditulis dalam rangka menjelaskan bentuk-bentuk silogisme dan induksi. Hidanul Ichwan tidak hanya menjabarkan silogisme sacara devinitif dan contoh-contoh. Akan tetapi, ia juga menjelaskan metode-metode agar kita dapat berpikir logis dan menemukan pengetahuan baru dengan menggunakan silogisme, dengan mengambil putusan yang tepat.

Sejauh ini tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengetahui logika, karena setiap kali kita berkata dan membaca (melihat, mencerna) kita harus mengoprasikan logika agar menemukan makna dari apa yang kita lihat. Jika tidak, semua kejadian atau peristiwa akan sia-sia. Di sinilah peran penting ilmu logika itu diperlukan. Bukan sebatas pada wilayah yang bermbau akademik dan formal. Sebab manusia diciptakan untuk berpikir, manusia tidak pernah berhenti melakukan proses berpikir mulai dari bangun sampai tidur kembali, baik yang diucapkan atau pun yang disimpannya dalam pikiran.

Dengan membaca buku “Logika Keilmuan, Pengantar Silogisme dan Induksi” yang ditulis DR. Hidanul Ichwan Harun ini, pembaca akan lebih memahami bagaimana logika itu beroperasi dalam aktivitas keseharian kita. Hidanul Ichwan juga melengkapi dengan berbagai contoh pada setiap bahasan yang terkait dengan deduksi dan induksi, di mana ia memfokuskan pada dua variabel logika tersebut dan juga silogisme.

Judul Buku  : Logika Keilmuan, Pengantar Silogisme dan Induksi
Penulis        : DR. Hidanul Ichwan Harun
Penerbit       : Pustaka Pelajar
Cetakan       : Agustus 2014
Tebal           : xi + 108  halaman
ISBN           : 978-602-229-366-8
Continue Reading...

Senin, 11 Januari 2016

Dalam Secangkir Kopi

Ruap kopi di cangkir mengingatkan rinduku yang dalam
Ia datang membelah dada perempuan
Menjilat lekuk-lekuk tubuhnya yang tak terlihat
Dan menenggelamkan rindu dalam pekat kopi
Satu seruputan memoriku bertandang

Kopi di cangkirku tak ada tanding
Aromanya adalah parfum yang kau tinggal almari kamar
Setiap kali pintunya terbuka
Semerbak harum menyeruak
Memanggil kupu-kupu di tangkai bunga kamboja

Bilamana pagi berbagi kedinginan
Akan kubuat secangkir kopi
Dan meminumnya bersamamu
Di kamar yang kau biarkan berdebu
Tapi masih seperti dulu
Bersamamu aku lupa mengucapkan sesuatu
Hangat kopi adalah tubuhmu yang kurindu

Di sini aku menunggu
Dalam secangkir kopi yang dulu

Yogyakarta 2013

Continue Reading...

Minggu, 10 Januari 2016

Pers dalam Fragmen Sejarah Indonesia



Membaca buku Sejarah Kecil, Patite Histoire Indonesia (jilid 2) karya Rosihan Anwar. Saya seakan memasuki masa silam Indonesia yang terpotong-potong. Sebagaimana potret yang tak pernah utuh, hanya sisi-sisi tertentu saja yang menjadi perhatian. Seperti beberapa jilid lainnya, Rosihan Anwar menyajikan fragmen-fragmen sejarah Indonesia. Dan dalam buku ini, lebih kecil lagi, mengenai keterlibatan pers dan wartawan dalam perjalanan Indonesia.
Sepanjang sejarah Indonesia, jauh sebelum Indonesia merdeka. Pers diam-diam ikut ambil peran di dalamnya. Pers mempunyai misi dan tugas yang cukup besar, pada masa kolonial Belanda  pers serta wartawan Indonesia memimpin rakyat supaya mempunyai semangat juang untuk merdeka. Pada masa jajahan Jepang pers menambahkan tugasnya, yaitu menyebar luaskan
pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (hal. 28).
Jelas, sejarah perjuangan Indonesia tak lepas dari perjalanan pers dan elemen-elemennya. Orang-orang pers berjuang sebagai provokator, mengobarkan semangat bangsa. Misi itu tidak sia-sia, pada masa itu pers merupakan salah satu ancaman yang tak kecil bagi penjajah. Di zaman akhir jajahan Jepang, semangat kebangsaan kian menggelora dan bahasa Indonesia telah digunakan di berbagai daerah. Semangat juang pun tak dapat di pendam, terbukti Jepang tidak lama membuat kisah kelam. Diakui atau tidak, hal itu berkat kerja pers dan wartawan yang mengkonstruk paradigma rakyat Indonesia.
Tapi, sepertinya kerja keras itu tidak begitu terlihat oleh rakyat biasa atau pun penguasa. Sebab, pers tidak seperti pejuang-pejuang lain semisal TNI yang mengorbankan darah dan nyawa. Padahal yang menyulut api semangat bangsa adalah kerjaan orang-orang pers.
Disadari tau tidak, pers rupanya senjata terampuh setiap negara, begitu pula dalam wilayah yang lebih kecil. Saat ini, setelah pers selesai beradu kekuatan dengan penjajah. Pers menjadi senjata ampuh parpol yang ingin berkuasa, entah apakah ia masih mengusung nasionalisme layaknya sewaktu berperang untuk merdeka? Dan itu sah dan tak masalah, atau yang terjadi sebaliknya, menjadi penjajah bagi negaranya sendiri? Secara tersirat, hal itu yang ditanyakan Rosihan Anwar sebagai orang yang banyak terlibat dalam perjuangan pers menjalankan misinya.
Bukan suatu kekeliruan bila dalam buku ini Rosihan Anwar menulis “Wartawan, engkau pahlawan dalam hatiku” sutu bab judul yang membahas para wartawan yang ikut andil dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia 1945.
Pasalnya, Sukarno dan Hatta di culik oleh segerombolan pemuda di bawa ke Rengasdengklok untuk memproklamasikan kemerdekaan. Mereka berdua diminta untuk menandatangani teks Proklamasi Kemerdekaan. Dengan begitu, para pemuda pun melawan tentara Inggris di Surabaya pada 10 November 1945. Maka, Bung Hatta dalam pidatonya mengatakan dengan penuh emosi “Pemuda, Engkau pahlawan dalam hatiku”. Dimana, pada kejadian tersebut Rosihan Anwar sendiri yang meliputnya sebagai saksi sejarah.
Seperti beberapa tulisan lainya dalam buku ini, ada nama-nama Rosihan Anwar sebagai pelaku atau saksi sejarah pada masa itu. Misalnya, dalam cerita Usmar Ismail pendiri Pusat Film Nasional Indonesia (perfini) 30 Maret 1950, Rosihan Anwar juga menulis keterlibatannya dalam pementasan teater yang disutradarai Usmar Ismail. Ada nada-nada narsisme dalam penuturannya, toh sekalipun itu tak terlalu bermasalah. Karena pemeran utama grup teater Maya adalah Rosihan Anwar, sahabat dekat dan teman sekelas di AMS, maka ia (Usmar Ismail) memberikan kebebasan cukup banyak dalam menginterpretasi peran yang dimainkan (hal. 56).
Buku ini tak ubahnya kisah Rosihan Anwar sebagai wartawan yang terlibat langsung dalam banyak kejadian. Tak heran bila dia memberi judul Sejarah Kecil, Patite Histoire Indonesia. Sebab, hanya potongan kecil dari sejarah Indonesia yang besar. Tak banyak rujukan yang dia pakai, barangkali lebih berdasarkan pengalaman pribadinya. Sekalipun begitu ini bukan suatu kesalahan yang akut.
Tapi, jelas tidak semata-mata mendengarkan paparan Rosihan Anwar. Ada sesuatu yang patut dipelajari dari setiap sejarah. Entah itu kesalahan atau hal baik yang menyenangkan. Pers sekarang yang terlena dengan kekuasaan, terdapat banyak nilai luhur telah dilupakan. Pers masa lalu menegakkan proklamasi 17 Agustus, membela Republik Indonesia terhadap serangan kolonialisme dan imperialisme. Inilah yang perlu ditekankan, dan menjadi nilai yang tak pernah hilang.
Nilai-nilai itulah yang ingin disampaikan Rosihan Anwar dari sejarah, oleh karena itulah barangkali dia tak peduli dengan teknik penulisan sejarah. Sehingga, dia menyampaikan dalam bentuk narasi potongan-potongan cerita. Yang terpenting adalah, bagaimana pers dan wartawan mempunyai prinsip nasionalisme dan keadilan yang tinggi. Di bagian awal, Rosihan Anwar menyajikan beberapa pokok nilai yang harus dilaksana pers dan elemen-elemennya. Jadi, bagaimana pun bentuknya, buku ini penting dikonsumsi pekerja pers di Indonesia. Bahkan bagus untuk rujukan kurikulum pers. Semoga!

Judul Buku        : Sejarah Kecil, Petite Histoire Indonesia (jilid 2)
Penulis              : Rosihan Anwar
Penerbit            : Penerbit Buku Kompas
Cetakan I & II  : 2009
Cetakan III       : Januari 2014
Tebal                : ix + 348  halaman
ISBN                : 978-979-709-428-7
Continue Reading...

Benedetto Croce, Menilik Peranan Intuisi

Adalah maklum ketika orang yang bergelut dalam wilayah kesusastraan dan sejarah, menghasilkan teori-teori sejarah yang didasarkan pada teori estetik atau pun sebaliknya. Benedetto Croce (1866-192), merupakan salah satu yang berada dalam dua wilayah tersebut. Sekalipun tak dapat dipungkiri bahwa sastra yang lebih dominan dalam kepribadiannya.

Ia dilahirkan  di Italia dari keluarga pemilik tanah yang kaya raya. Namun, keluarga dan kekayaannya berakhir pada tahun 1883 terjadi Gempa bumi di sekitar tempat tinggalnya. Croce yang selamat dari peristiwa yang merenggut banyak jiwa tersebut pindah ke Silvio Spaventa, Roma. Ia tinggal dengan pamannya.

Dua tahun ia di Roma, pindah ke Naples karena menolak tuntutan keluarganya untuk meneruskan studinya di bidang hukum tahun 1886. Sejak itulah, bakat sejarah dan sastra yang dia miliki sejak mudanya mulai dikembangkan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengembangkan bakatnya, ia menjadi pengajar pribadi yang fokus pada kajian sejarah, khususnya Italia.

Pada tahun itu pula ia berteman dengan Giovanni Gentile. Croce mempunyai peranan penting dalam pemikiran dan politik Italia. Berkat pemikiran Croce Italia berhasil bersikap netral pada perang Dunia 1. Ia juga sempat menjadi Menteri Pendidikan, yang bersama Gentile mengajukan reformasi pendidikan untuk diterapkan di Italia. Sayang, berkembangnya fasisme saat itu keduanya berpisah. Padahal pertemanan yang kurang lebih 20 tahun itu telah mengubah pola filsafat idealisme Hegel dengan menghasilkan gerakan revivalisme.


Dialektika Intelektual Croce


Dari beberapa tokoh yang dikenalkan pada Croce, oleh Antonio Labriola dan Johann Freidrich Herbart hanya Hegel dan Immanuel Kant yang punya pengaruh besar terhadap pemikirannya. Menariknya, Croce bukanlah pengagum yang membabi buta—ia mengkritik dialektikanya Hegel. Bagi Croce oposisi (berlawanan) dalam dialektika Hegel tidak ada kejelasan.

Apa yang disampaikan Hegel tidaklah sepenuhnya keliru bahwa dari oposisi-oposisi tercipta sebuah sintesa dan secara terus menerus. Akan tetapi Croce berpikir ulang untuk menangkap itu mentah-mentah. Baginya, tidak mungkin tercipta sintesa dari hal-hal yang berbeda tapi tidak berlawanan. Analogi yang ia pakai adalah kerja filsafat dan seni, wilayah seni lebih pada keindahan dan kegunaan, sementara filsafat persoalan benar dan moral. Keduanya berbeda tapi tidak berlawanan, maka praktis tidak muncul sintesa dari hal tersebut.

Perbedaan mendasar dari Kant adalah Croce meyakini bahwa dunia itu dapat terbentuk lewat perantara kesan-kesan yang kita bangun dari pengetahuan intuisi yang di miliki. Sementara Kant mengatakan pengetahuan manusia itu sesungguhnya telah hadir dengan bentuk yang pasif pada diri manusia dan lewat intuisi yang mengolah dalam struktur pemikiran manusia yang spasial dan temporal. Maka, sebenarnya persoalan waktu dan ruang yang membedakannya.

Dalam hal ini usaha Croce tersebut antara Hegel dan Kant dalam diri Croce jelas mengalami dialektika intelektual yang cukup akut dan rumit. Maka tak salah bisa ada yang mengatakan bahwa Croce dalam filsafat ia mengembangkan Hegel dan Kant menempati teori estetik yang dikembangkannya. Namun, bukan berarti peta pikir Croce yang dihasilkan adalah sintesa dari keduanya.


Intuisi dalam Peranannya


Sebagaimana dalam karyanya Aesthetics as Scaien of Expression and general linguistic 1902, ia menekankan betapa pentingnya peranan intuisi dalam mengindentifikasi sebuah karya seni. Dengan mengacu pada sistematika idealisme Hegel dan Kant yang digunakan dalam karya ini, ia mengembangkan pemikirannya. Peran intuisi dalam diri manusia adalah sebagai pijakan atas realitas hidup yang dijalaninya. Ini kemudian erat kaitannya dengan partikularitas dari roh yang dimiliki manusia sebagai upaya menganalisis terhadap keberadaannya dalam menghasilkan karya seni.

Peranan intuisi yang dimaksud Croce adalah pengetahuan sebagaimana adanya terhadap. Sehingga antara yang nyata dan tidak nyata menyatu di dalamnya. Itulah mengapa Croce mengatakan dunia terbentuk lewat kesan-kesan, dengan begitu manusia telah memberi bentuk atau representasi atas stimuli yang diterima.

Namun, meskipun intuisi dengan sendirinya bisa berdaya untuk menilai suatu karya seni, seperti membaca puisi kita tidak perlu membandingkannya dengan pengetahuan logis. Sebab aktivitas menilai (kritikus) dapat dikatakan berhasil bila ia puas terhadap apa yang dinilai. Namun, ia tetap membutuhkan logika (konsep) untuk menuntunnya pada karakteristik karya seni, maka refleksi dan kontemplasi menjadi hal penting dalam kerja ini. Dan itu pula yang akan mengklasifikasi suatu karya pada aliran tertentu.

Maka konsekuensi dari peranan penting intuisi dalam menilai adalah dalam diri kritikus tersimpan produktivitas yang pasif, layaknya seniman. Begitu sebaliknya, dalam diri seniman terdapat unsur reproduktivitas yang pasif, sebagaimana milik kritikus. Ini merupakan salah satu implikasi dari pengaruh filsafat Hegel dan Estetika Kant.

Begitu pula dalam penilaian sejarah, sejarah yang merupakan isi dengan bentuk yang diperoleh dari peranan intuisi bagi Corce. Tak ada bedanya dengan seni yang bersifat partikular. Nyata tidaknya suatu sejarah, tergantung pada ingatan kita secara subjek individu atau pun kolektif (universal). Jelas, kita juga perlu memeriksa unsur-unsurnya dalam pemikiran untuk berhasil menemukan kebenaran orisinil. Oleh karena, penilaian kita pada karya seni atau pun sejarah akan selalu berkembang seiring dengan stimuli dalam bentuk apa pun yang kita terima.
Continue Reading...

Memaknai Ibu dalam Puisi D. Zawawi Imron

Jika sejarah revolusi tak lepas dari sejarah para pemuda, maka sejarah pemuda tak lepas dari sejarah Ibu. Sejarah manusia adalah sejarah para Ibu, karena para Ibu manusia mengenal cinta dan kasih sayang. Dalam Islam, tidak ada para Nabi yang menghinakan Ibunya. Para pemikir, politisi, jangan pernah berpikir hidup tanpa tangan lembut seorang Ibu.

Ibu adalah perempuan yang di utus Tuhan untuk menyemaikan risalah cinta pada anak-anaknya, jauh sebelum anak-anak itu menyadari bagaimana mesti menaruh hormat kepadanya. Begitu yang diungkapkan Kuswaidi Syafi’ie dalam “Tafakur di Ujung Cinta”. Untuk itulah, setidaknya dengan adanya hari untuk Ibu, para anak Ibu dapat mengekspresikan kecintaan mereka kepada Ibu-Ibu yang melahirkan anak, atau kepada Ibu-Ibu yang mengasuh dan memberikan kasih dan sayangnya. Seperti yang dikatakan Abdul Hadi dalam “Al-Qur’an berbicara Tentang Ibu” Terdapat dua macam Ibu di sini; Ibu yang mengandung dan melahirkan, Ibu yang mengasuh, yang melaksanakan tugas-tugas sebagai Ibu semisal memelihara dan menyusui.

Karena kasih dan sayangnya, perlulah kita membalasnya walau sulit untuk sepadan. Terdapat banyak cara mengekspresikan cinta kepada Ibu. Ada yang menghadiahkan Umrah, ada yang mengungkapkan segala perasaannya, ada pula yang mengakui semua kesalahan dan meminta maaf, ada juga yang hanya memberikan sekuntum bunga. Bagi D. Zawawi Imron penyair dari Madura itu, puisi adalah salah satu caranya mengungkapkan cinta dan terima kasih kepada Ibunya. Dalam setiap orasi kebudayaannya, Pak De (Sapaan Akrabnya) akan selalu bilang “karena saya anak Ibu, maka saya akan membacakan puisi berjudul Ibu”.

Sekalipun, puisi itu bukan satu-satunya puisi yang populer dari Pak De, karena masih ada Alif dan lainnya. Namun, puisi Ibu mempunyai arti tersendiri bagi Pak De. Entah, ini hanya dugaan saya atau memang benar begitu adanya. Cuma yang jelas, Pak De sulit lepas dari puisi Ibu ketika mengisi Orasi Budaya. Baru-baru ini Pak De, berorasi di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, dan untuk yang kesekian kalinya Pak De membacakan Puisi Ibu. Dan saya melihat dan mendengarkan, betapa Pak De begitu larut dalam emosi puisinya.

Dengan Puisinya, Pak De telah meyakini menjadi anak yang tak mampu membalas kasih sayang Ibunya. Pada bait pertama, kalau aku merantau lalu datang musim kemarau/sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting/hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir. Dengan bait ini Pak De hendak mengatakan betapa doa, curahan kasih dari Ibu tak pernah kurang meski kehidupan telah terjerumus dalam kegersangan, entah moral, harmoni sosial atau pun pendidikan.

Dalam puisi Ibu, Pak De juga mengingat-ingat bagaimana waktu di meronta-ronta kepada Ibunya. Dan Pak De mengakui seorang Ibu telah mengajari banyak hal tentang hidup yang mesti ia jalani. Dalam bait ketiganya ia mengatakan gua pertapaanku/dan ibulah yang meletakkan aku di sini/saat bunga kembang meyemerbak bau sayang/ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi/aku mengangguk meskipun kurang mengerti. Baginya Ibu adalah segalanya yang menjadi tempat ia menimba pengetahuan, mencari makna hidup yang semestinya.

Menjadi seorang Ibu bukan suatu perkara yang mudah, tak semudah manusia menjadi pemimpin, atau mencari kerja. Untuk menjadi Ibu, harus siap segalanya. Ibu tidak hanya memberikan makan dan susu kepada anaknya, tapi Ibu menanamkan sifat, pikir dan cinta kepada anaknya. Bukan suatu yang asing lagi jika ada Ibu yang rela menderita untuk kebahagiaan anaknya. Anak dalam diri Ibu adalah dirinya, anak adalah manifestasi cinta kasihnya, anak adalah jiwa atau bating Ibu yang berwujud nyata.

Apa pun yang kita lakukan pada Ibu, hakikatnya adalah dilakukan juga pada kita. Sebagaimana diucapkan Nabi Isa a.s, “Dan berbakti kepada Ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka” (QS; Maryam: 23). Berbakti kepada Ibu tidak mesti melihat apakah Ibu seorang yang seagama, kaya, cantik dsb.  Selayaknya Ibu dihormati dan dituruti selama Ibu tidak menyuruh kita untuk berbuat dosa, bahkan jika Ibu seorang kafir kita berkewajiban meminta ridhanya, dan hal itu juga pernah ditegaskan oleh Rasulullah.

Dan bait itu semakin diperkuat dengan bait setelahnya dengan lirik, bila kasihmu ibarat samudera/sempit lautan teduh/tempatku mandi, mencuci lumut pada diri/tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh. Sampai di sini, Pak De semakin mantap memaknai Ibu dalam dirinya, Ibu bagi anak (Pak De) bukan sekadar ikatan jasmaniah dan darah, melainkan hubungan batin yang sangat sublim. Dalam puisi Lagu Laut, Pak De membuat lirik dan kalau malang perahukukaram/kuyakini hatimu, ibu/adalah kuburku yang sebenarnya. Dengan lirik ini ia semakin menegaskan bahwa taruhan hidupnya adalah untuk ibunya seorang.

Walau terkesan musiman tak salah kita memperingati Hari Ibu sebagai ekspresi kecintaan. Dengan harapan momen seperti itu dapat memberikan rasa cinta lebih kepada Ibu. Hari yang dapat membuat kita selalu berbakti, berdoa dan mencintai Ibu. Atau hari yang dapat melahirkan sajak Ibu, sebagaimana Pak De dan para penyair lain menulisnya bukan hanya untuk memperingati Hari Ibu, karena setiap Hari adalah Hari Ibu.
Continue Reading...