Pergi ke luar negeri adalah impian tersendiri, dan pendidikan yang tinggi merupakan impian yang lain. Buku “Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura” adalah kisah meraih impian untuk melanjutkan pendidikannya di Osaka University Japan.
Kita hidup dengan impian-impian. Meraih impian, bukan perkara yang mudah, butuh ketekunan (inten) dan keseriusan dalam hal apapun yang diimpikan. Negeri impian adalah negeri khayal, negeri yang penuh dengan keindahan. Tapi jalan-jalan menujunya sesak oleh onak nan terjal. Penuh batu dan karang.
Para penulis dalam buku ini adalah para pejuang, tak kenal lelah, tak pernah menyerah hingga meraih impian; kuliah di Osaka University Japan. Satu hal yang membuat buku ini inspiratif karena beberapa dari penulisnya tidak narsis namun juga tidak lebay. Mereka tidak membeberkan prestasi-prestasi yang diperoleh selama masa kuliah atau pun sekolah. Melainkan, mereka mengisahkan perih—pedih perjuangan menuju impian.
Tulisan-tulisan di dalamnya tidak seperti kisah inspiratif pada biasanya. Tidak ada cerita tentang keindahan dan hiburan-hiburan menarik di Japan. Mereka dengan fokus menulis kisahnya menuju impian, tanpa dibumbui, tanpa dikurangi. Memang, dalam beberapa tulisan terdapat penyusunan kalimat yang kurang tepat, EYD yang salah dan typo di beberapa tempat. Kecuali mereka yang diluar ilmu sains. Tapi itulah, mereka memang bukan penulis, filsuf atau sastrawan yang biasa bergelut dengan teks.
Akan tetapi, mereka adalah mahasiswa yang hidupnya dikelilingi oleh penelitian-penelitian sains. Oleh karenanya, mereka adalah penulis yang jujur. Yang tidak meperhitungkan persoalan EYD dalam sebuah tulisan (akan lebih baik jika benar). Baiklah, itu bisa dimaklumi, karena temuan-temuan mereka di bidang sains sangat penting untuk dikagumi. Yang lebih penting dari itu adalah usaha (effort), kerja keras (striving), intensitas mereka hanya untuk kuliah di Osaka University secara gratis. Tidak semua bisa melakukannya. Merekalah pencipta kesempatannya sendiri, untuk impiannya sendiri.
Judul Buku : Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura
Penulis : Gugus Ketut, dkk
Penerbit : Pena Nusantara
Cetakan : 2014
ISBN : 978-602-1277-02-7
Tebal : X + 206 halaman
Peresensi : Muhammad Rasyidi
Misalnya, salah satu kisah inspiratif dalam buku ini datang dari Retno Wahyu Nurhayati. Dia menulis kisahnya dengan judul “Hidup Lebih Indah Dengan Sekolah” (halaman, 80). Dari judul sudah terlihat bahwa Retno bukan seorang penulis pada umumnya, tulisan itu semacam catatan harian. Benar, Retno kecil tinggal di Sragen, Jawa Tengah dengan kehidupan yang miris karena ayahnya dipanggil ke sisi-Nya. Retno tinggal dengan ibu dan empat adiknya. Sesekali dia membantu ibunya jualan di depan rumahnya untuk menghidupi adik-adiknya.
Kondisi itu tidak membuat Retno putus asa. Retno adalah seorang remaja yang sejak kecil bercita-cita jadi peneliti (halaman, 82) dan IPB adalah tujuannya. Di IPB dia harus berjuang mempertahankan IPK-nya agar beasiswa yang dia dapat tidak diputus. Tahun ke empat di IPB, Retno dipusingkan oleh penelitian tugas akhir secara mandiri. Retno harus mencari dana, agar lulus tepat pada waktunya. Kali ini keberuntungan berpihak padanya. Retno akhirnya mendapat kesempatan untuk mengerkan penelitian di Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang hasilnya bisa dijadikan tugas akhir. Intraksi di LIPI banyak menghasilkan relasi bagi Retno, termasuk kesempatannya belajar di Osaka University.
Hidup di Negeri Sakura, Retno masih belum mendapat keindahan. Bahkan di tahun-tahun pertama dia selalu pulang dengan cucuran airmata karena seringkali ditegur oleh sensei (guru) yang perfeksionis. Tapi itu cambuk yang membuat Retno Bangkit. Di Tahun kedua, Retno sudah bisa mempresentasikan hasil penelitiannya di konfrensi internasional. Tahun di mana Retno menulis ceritanya sedang menempuh S3. Saat itu Retno sudah menguasai teknik dasar untuk merekayasa mikrooganisme (bioteknologi bakteri) dan Retno punya target untuk meneliti sel manusia. Pada saat itu pula, Retno sedang meneliti sel ‘ajaib’ yang menjadi induk dari segala jenis sel (halaman, 86).
Kisah lain datang dari Murni Handayani. Berbeda dengan Retno yang punya kesempatan besar sejak kecil meski didera beberapa kesulitan. Murni adalah lulusan UNS (Universitas Sebelas Maret, Solo) yang bekerja di Century Healthcare Jakarta (halaman, 90). Tempat Murni bekerja tidak jauh dari kantor LIPI, setiap kali berangkat-pulang kerja Murni melewatinya. “Ah… seandainya saya bisa bekerja di sana” begitulah keluh Murni penuh harap setiap melewatinya, hingga akhirnya Murni benar-benar bekerja di LIPI.
Sayangnya, jobs yang diberikan pada Murni tidak sesuai impian. Murni punya keinginan untuk masuk di Pusat Penelitian Kimia karena memang sesuai dengan jurusannya. Posisi yang diperoleh membuat Murni berpikir untuk melanjutkan kuliah S2. Akan tetapi Murni masih terikat kontrak selama dua Tahun. Tidak boleh tidak dia harus menyelesaikan kontraknya.
Dua tahun habis, dan Murni sudah punya anak. Tapi, hal itu tidak membuat keinginan untuk melanjutkan S2 musnah. Sambil bekerja di LIPI dan ikut nimbrung di beberapa penelitian yang sebenarnya bukan jobnya, Murni mulai mencari dan mempelajari tips untuk kuliah di Japan (Jepang). Ya, Jepang adalah tujuan Murni karena terkenal dengan sains dan teknologinya (halaman, 93).
Untuk meraih impian kuliah di Jepang sudah banyak yang murni lakukan, termasuk mendatangi langsung Kedubes Jepang. Mengirimkan CV dan research proposal ke beberapa profesor kimia di Jepang. Keberuntungan masih belum berpihak pada Murni, sekitar 40 email yang Murni kirim banyak yang ditolak dan ada pula yang tidak ada jawaban. Namun, akhirnya ada satu profesor yang welcome. Akan tetapi, perjuangan Murni masih belum berakhir. Murni mendaftar beasiswa Inpex, namun tidak lolos. Untungnya, profesor yang sebelumnya merekom Murni masih mendukung Murni untuk mencari beasiswa lain. Macam-macam telah dilakukan Murni, tapi tak satu pun membuahkan hasil positif.
Pada tahun 2010, di saat umur Murni sudah tidak lagi remaja, akhirnya mendapat kesempatan mendaftar beasiswa Monbusho (beasiswa dari pemerintah Jepang). Setelah menunggu lama Murni dinyatakan lolos. Lagi-lagi cobaan datang, setelah dua kali wawancara dan tinggal satu wawancara lagi Murni dihadapkan pada anaknya yang terbaring di Rumah Sakit. Tapi usaha mengalahkan segalanya, Murni memberanikan diri untuk negosiasi dengan profesor yang akan mewawancara dirinya. Dia menceritakn perihal yang terjadi. Walhasil Murni diberi kesempatan untuk wawancara di lain waktu dan Murni akhirnya diterima di Osaka University (halaman, 100). Impian tidaklah kemana, ia akan di tempatnya sampai kita berusaha mencapainya.
Jika saya punya kesempatan menikmati matahari terbit dan dan tenggelam di Negeri rantau ucapan terima kasih pertama adalah pada 19 penulis di buku ini. Silahkan anda terjemahkan sendiri.
*Muhammad Rasyidi lahir di Sumenep Madura Juli 1994, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif dibeberapa komunitas salah satunya adalah diskusi filsafat Lingkaran Metalogi. email: denrasyidi@gmail.com Fb: https://www.facebook.com/rasyidimu

Continue Reading...
Kita hidup dengan impian-impian. Meraih impian, bukan perkara yang mudah, butuh ketekunan (inten) dan keseriusan dalam hal apapun yang diimpikan. Negeri impian adalah negeri khayal, negeri yang penuh dengan keindahan. Tapi jalan-jalan menujunya sesak oleh onak nan terjal. Penuh batu dan karang.
Para penulis dalam buku ini adalah para pejuang, tak kenal lelah, tak pernah menyerah hingga meraih impian; kuliah di Osaka University Japan. Satu hal yang membuat buku ini inspiratif karena beberapa dari penulisnya tidak narsis namun juga tidak lebay. Mereka tidak membeberkan prestasi-prestasi yang diperoleh selama masa kuliah atau pun sekolah. Melainkan, mereka mengisahkan perih—pedih perjuangan menuju impian.
Tulisan-tulisan di dalamnya tidak seperti kisah inspiratif pada biasanya. Tidak ada cerita tentang keindahan dan hiburan-hiburan menarik di Japan. Mereka dengan fokus menulis kisahnya menuju impian, tanpa dibumbui, tanpa dikurangi. Memang, dalam beberapa tulisan terdapat penyusunan kalimat yang kurang tepat, EYD yang salah dan typo di beberapa tempat. Kecuali mereka yang diluar ilmu sains. Tapi itulah, mereka memang bukan penulis, filsuf atau sastrawan yang biasa bergelut dengan teks.
Akan tetapi, mereka adalah mahasiswa yang hidupnya dikelilingi oleh penelitian-penelitian sains. Oleh karenanya, mereka adalah penulis yang jujur. Yang tidak meperhitungkan persoalan EYD dalam sebuah tulisan (akan lebih baik jika benar). Baiklah, itu bisa dimaklumi, karena temuan-temuan mereka di bidang sains sangat penting untuk dikagumi. Yang lebih penting dari itu adalah usaha (effort), kerja keras (striving), intensitas mereka hanya untuk kuliah di Osaka University secara gratis. Tidak semua bisa melakukannya. Merekalah pencipta kesempatannya sendiri, untuk impiannya sendiri.
Judul Buku : Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura
Penulis : Gugus Ketut, dkk
Penerbit : Pena Nusantara
Cetakan : 2014
ISBN : 978-602-1277-02-7
Tebal : X + 206 halaman
Peresensi : Muhammad Rasyidi
Misalnya, salah satu kisah inspiratif dalam buku ini datang dari Retno Wahyu Nurhayati. Dia menulis kisahnya dengan judul “Hidup Lebih Indah Dengan Sekolah” (halaman, 80). Dari judul sudah terlihat bahwa Retno bukan seorang penulis pada umumnya, tulisan itu semacam catatan harian. Benar, Retno kecil tinggal di Sragen, Jawa Tengah dengan kehidupan yang miris karena ayahnya dipanggil ke sisi-Nya. Retno tinggal dengan ibu dan empat adiknya. Sesekali dia membantu ibunya jualan di depan rumahnya untuk menghidupi adik-adiknya.
Kondisi itu tidak membuat Retno putus asa. Retno adalah seorang remaja yang sejak kecil bercita-cita jadi peneliti (halaman, 82) dan IPB adalah tujuannya. Di IPB dia harus berjuang mempertahankan IPK-nya agar beasiswa yang dia dapat tidak diputus. Tahun ke empat di IPB, Retno dipusingkan oleh penelitian tugas akhir secara mandiri. Retno harus mencari dana, agar lulus tepat pada waktunya. Kali ini keberuntungan berpihak padanya. Retno akhirnya mendapat kesempatan untuk mengerkan penelitian di Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang hasilnya bisa dijadikan tugas akhir. Intraksi di LIPI banyak menghasilkan relasi bagi Retno, termasuk kesempatannya belajar di Osaka University.
Hidup di Negeri Sakura, Retno masih belum mendapat keindahan. Bahkan di tahun-tahun pertama dia selalu pulang dengan cucuran airmata karena seringkali ditegur oleh sensei (guru) yang perfeksionis. Tapi itu cambuk yang membuat Retno Bangkit. Di Tahun kedua, Retno sudah bisa mempresentasikan hasil penelitiannya di konfrensi internasional. Tahun di mana Retno menulis ceritanya sedang menempuh S3. Saat itu Retno sudah menguasai teknik dasar untuk merekayasa mikrooganisme (bioteknologi bakteri) dan Retno punya target untuk meneliti sel manusia. Pada saat itu pula, Retno sedang meneliti sel ‘ajaib’ yang menjadi induk dari segala jenis sel (halaman, 86).
Kisah lain datang dari Murni Handayani. Berbeda dengan Retno yang punya kesempatan besar sejak kecil meski didera beberapa kesulitan. Murni adalah lulusan UNS (Universitas Sebelas Maret, Solo) yang bekerja di Century Healthcare Jakarta (halaman, 90). Tempat Murni bekerja tidak jauh dari kantor LIPI, setiap kali berangkat-pulang kerja Murni melewatinya. “Ah… seandainya saya bisa bekerja di sana” begitulah keluh Murni penuh harap setiap melewatinya, hingga akhirnya Murni benar-benar bekerja di LIPI.
Sayangnya, jobs yang diberikan pada Murni tidak sesuai impian. Murni punya keinginan untuk masuk di Pusat Penelitian Kimia karena memang sesuai dengan jurusannya. Posisi yang diperoleh membuat Murni berpikir untuk melanjutkan kuliah S2. Akan tetapi Murni masih terikat kontrak selama dua Tahun. Tidak boleh tidak dia harus menyelesaikan kontraknya.
Dua tahun habis, dan Murni sudah punya anak. Tapi, hal itu tidak membuat keinginan untuk melanjutkan S2 musnah. Sambil bekerja di LIPI dan ikut nimbrung di beberapa penelitian yang sebenarnya bukan jobnya, Murni mulai mencari dan mempelajari tips untuk kuliah di Japan (Jepang). Ya, Jepang adalah tujuan Murni karena terkenal dengan sains dan teknologinya (halaman, 93).
Untuk meraih impian kuliah di Jepang sudah banyak yang murni lakukan, termasuk mendatangi langsung Kedubes Jepang. Mengirimkan CV dan research proposal ke beberapa profesor kimia di Jepang. Keberuntungan masih belum berpihak pada Murni, sekitar 40 email yang Murni kirim banyak yang ditolak dan ada pula yang tidak ada jawaban. Namun, akhirnya ada satu profesor yang welcome. Akan tetapi, perjuangan Murni masih belum berakhir. Murni mendaftar beasiswa Inpex, namun tidak lolos. Untungnya, profesor yang sebelumnya merekom Murni masih mendukung Murni untuk mencari beasiswa lain. Macam-macam telah dilakukan Murni, tapi tak satu pun membuahkan hasil positif.
Pada tahun 2010, di saat umur Murni sudah tidak lagi remaja, akhirnya mendapat kesempatan mendaftar beasiswa Monbusho (beasiswa dari pemerintah Jepang). Setelah menunggu lama Murni dinyatakan lolos. Lagi-lagi cobaan datang, setelah dua kali wawancara dan tinggal satu wawancara lagi Murni dihadapkan pada anaknya yang terbaring di Rumah Sakit. Tapi usaha mengalahkan segalanya, Murni memberanikan diri untuk negosiasi dengan profesor yang akan mewawancara dirinya. Dia menceritakn perihal yang terjadi. Walhasil Murni diberi kesempatan untuk wawancara di lain waktu dan Murni akhirnya diterima di Osaka University (halaman, 100). Impian tidaklah kemana, ia akan di tempatnya sampai kita berusaha mencapainya.
Jika saya punya kesempatan menikmati matahari terbit dan dan tenggelam di Negeri rantau ucapan terima kasih pertama adalah pada 19 penulis di buku ini. Silahkan anda terjemahkan sendiri.
*Muhammad Rasyidi lahir di Sumenep Madura Juli 1994, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif dibeberapa komunitas salah satunya adalah diskusi filsafat Lingkaran Metalogi. email: denrasyidi@gmail.com Fb: https://www.facebook.com/rasyidimu
