Minggu, 10 Januari 2016

Memaknai Ibu dalam Puisi D. Zawawi Imron

Share it Please
Jika sejarah revolusi tak lepas dari sejarah para pemuda, maka sejarah pemuda tak lepas dari sejarah Ibu. Sejarah manusia adalah sejarah para Ibu, karena para Ibu manusia mengenal cinta dan kasih sayang. Dalam Islam, tidak ada para Nabi yang menghinakan Ibunya. Para pemikir, politisi, jangan pernah berpikir hidup tanpa tangan lembut seorang Ibu.

Ibu adalah perempuan yang di utus Tuhan untuk menyemaikan risalah cinta pada anak-anaknya, jauh sebelum anak-anak itu menyadari bagaimana mesti menaruh hormat kepadanya. Begitu yang diungkapkan Kuswaidi Syafi’ie dalam “Tafakur di Ujung Cinta”. Untuk itulah, setidaknya dengan adanya hari untuk Ibu, para anak Ibu dapat mengekspresikan kecintaan mereka kepada Ibu-Ibu yang melahirkan anak, atau kepada Ibu-Ibu yang mengasuh dan memberikan kasih dan sayangnya. Seperti yang dikatakan Abdul Hadi dalam “Al-Qur’an berbicara Tentang Ibu” Terdapat dua macam Ibu di sini; Ibu yang mengandung dan melahirkan, Ibu yang mengasuh, yang melaksanakan tugas-tugas sebagai Ibu semisal memelihara dan menyusui.

Karena kasih dan sayangnya, perlulah kita membalasnya walau sulit untuk sepadan. Terdapat banyak cara mengekspresikan cinta kepada Ibu. Ada yang menghadiahkan Umrah, ada yang mengungkapkan segala perasaannya, ada pula yang mengakui semua kesalahan dan meminta maaf, ada juga yang hanya memberikan sekuntum bunga. Bagi D. Zawawi Imron penyair dari Madura itu, puisi adalah salah satu caranya mengungkapkan cinta dan terima kasih kepada Ibunya. Dalam setiap orasi kebudayaannya, Pak De (Sapaan Akrabnya) akan selalu bilang “karena saya anak Ibu, maka saya akan membacakan puisi berjudul Ibu”.

Sekalipun, puisi itu bukan satu-satunya puisi yang populer dari Pak De, karena masih ada Alif dan lainnya. Namun, puisi Ibu mempunyai arti tersendiri bagi Pak De. Entah, ini hanya dugaan saya atau memang benar begitu adanya. Cuma yang jelas, Pak De sulit lepas dari puisi Ibu ketika mengisi Orasi Budaya. Baru-baru ini Pak De, berorasi di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, dan untuk yang kesekian kalinya Pak De membacakan Puisi Ibu. Dan saya melihat dan mendengarkan, betapa Pak De begitu larut dalam emosi puisinya.

Dengan Puisinya, Pak De telah meyakini menjadi anak yang tak mampu membalas kasih sayang Ibunya. Pada bait pertama, kalau aku merantau lalu datang musim kemarau/sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting/hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir. Dengan bait ini Pak De hendak mengatakan betapa doa, curahan kasih dari Ibu tak pernah kurang meski kehidupan telah terjerumus dalam kegersangan, entah moral, harmoni sosial atau pun pendidikan.

Dalam puisi Ibu, Pak De juga mengingat-ingat bagaimana waktu di meronta-ronta kepada Ibunya. Dan Pak De mengakui seorang Ibu telah mengajari banyak hal tentang hidup yang mesti ia jalani. Dalam bait ketiganya ia mengatakan gua pertapaanku/dan ibulah yang meletakkan aku di sini/saat bunga kembang meyemerbak bau sayang/ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi/aku mengangguk meskipun kurang mengerti. Baginya Ibu adalah segalanya yang menjadi tempat ia menimba pengetahuan, mencari makna hidup yang semestinya.

Menjadi seorang Ibu bukan suatu perkara yang mudah, tak semudah manusia menjadi pemimpin, atau mencari kerja. Untuk menjadi Ibu, harus siap segalanya. Ibu tidak hanya memberikan makan dan susu kepada anaknya, tapi Ibu menanamkan sifat, pikir dan cinta kepada anaknya. Bukan suatu yang asing lagi jika ada Ibu yang rela menderita untuk kebahagiaan anaknya. Anak dalam diri Ibu adalah dirinya, anak adalah manifestasi cinta kasihnya, anak adalah jiwa atau bating Ibu yang berwujud nyata.

Apa pun yang kita lakukan pada Ibu, hakikatnya adalah dilakukan juga pada kita. Sebagaimana diucapkan Nabi Isa a.s, “Dan berbakti kepada Ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka” (QS; Maryam: 23). Berbakti kepada Ibu tidak mesti melihat apakah Ibu seorang yang seagama, kaya, cantik dsb.  Selayaknya Ibu dihormati dan dituruti selama Ibu tidak menyuruh kita untuk berbuat dosa, bahkan jika Ibu seorang kafir kita berkewajiban meminta ridhanya, dan hal itu juga pernah ditegaskan oleh Rasulullah.

Dan bait itu semakin diperkuat dengan bait setelahnya dengan lirik, bila kasihmu ibarat samudera/sempit lautan teduh/tempatku mandi, mencuci lumut pada diri/tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh. Sampai di sini, Pak De semakin mantap memaknai Ibu dalam dirinya, Ibu bagi anak (Pak De) bukan sekadar ikatan jasmaniah dan darah, melainkan hubungan batin yang sangat sublim. Dalam puisi Lagu Laut, Pak De membuat lirik dan kalau malang perahukukaram/kuyakini hatimu, ibu/adalah kuburku yang sebenarnya. Dengan lirik ini ia semakin menegaskan bahwa taruhan hidupnya adalah untuk ibunya seorang.

Walau terkesan musiman tak salah kita memperingati Hari Ibu sebagai ekspresi kecintaan. Dengan harapan momen seperti itu dapat memberikan rasa cinta lebih kepada Ibu. Hari yang dapat membuat kita selalu berbakti, berdoa dan mencintai Ibu. Atau hari yang dapat melahirkan sajak Ibu, sebagaimana Pak De dan para penyair lain menulisnya bukan hanya untuk memperingati Hari Ibu, karena setiap Hari adalah Hari Ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar