Kamis, 14 Januari 2016

Napak Tilas Kemerdekaan untuk Perdamaian

Share it Please
https://restlessangel.files.wordpress.com/2009/08/merah-putih-di-puncak.jpg
Hari kemerdekaan adalah hari kebahagiaan yang nyata. Begitu kira-kira yang dirasakan oleh Bangsa Indonesia saat merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Jika Sartre bilang bahwa orang lain itu neraka, jelas ada benarnya. Sekalipun konteknya pun berbeda. Bagaimana tidak, Indonesia yang selama bertahun-tahun terkurung dalam genggaman penjajah, akan sangat terasa bahwa pada saat itu orang lain (penjajah) adalah neraka bagi rakyat Indonesia. Tapi, akhirnya bisa juga melepaskan petaka yang semakin hari mengiris hati.

Indonesia Merdeka bukan tanpa alasan, Indonesia merdeka karena satu tangan dengan tangan yang lain, satu suku dengan suku yang lain, satu agama dengan agama yang lain saling memangku tangan untuk melawan penjajahan. Adalah mustahil untuk merdeka tanpa kerja sama. Kalau di Bukunya Deliar Nour Pemikiran Modern Islam Indonesia, seakan-seakan ingin mengatakan bahwa nasionalisme Indonesia itu adalah nasionalisme Islam. Sebab, perlawanan terhadap penjajah dimulai dari lahirnya Syarikat Islam, yang awalnya pun terkumpul karena Sayarikat Dagang Islam.

Boleh jadi itu memang benar adanya, pada saat itu Islam mampu menyatukan beragam paradigma, mampu menyatukan ideologi yang berbeda-beda dari banyak budaya. Langkah-langkah itu pun terlihat hasilnya, karena tujuannya sama, mengusir penjajah dari tanah tercinta.

Tapi kemudian, setelah Indonesia mampu mengusir para kolonel, setiap orang berhak atas haknya. Seperti kata Soekarno, masalah besar akan muncul lagi yaitu melawan kaum kita sendiri, perang saudara terjadi. Sebenarnya apa yang menyebabkan itu terjadi, satu-satunya alasan adalah bahwa kita tidak satu arah lagi, kita lebih pada kepentingan pribadi. Apakah dulu tidak ada konflik? Dulu ada, tapi itu hanya sebatas pada perang wacana saja yang dampaknya pun berbeda, mencerdaskan dan menawarkan solusi.

Jauh dengan sekarang, Indonesia semakin lama merdeka, Indonesia semakin banyak membiakkan budaya konflik terus saja membusungkan dada. Indonesia semakin kacau balau menghadapi budayanya sendiri. Memang sudah hukum alam, bahwa budaya bermata dua, satu melihat dengna terbuka, satu melihat dengan mata terpejam, dan konsekuensinya pun tidak sama.
https://www.google.com/
Lalu apa yang dapat kita lakukan, bila ternyata perdamaian hanyalah kata yang menggantung di angkasa? Masih ada harapan, pada hari kemerdekaan, semua suku dan agama akan berkumpul dalam satu lapangan untuk memperingati hari proklamasi kemerdekaan, lalu kenapa tidak terjadi pertengkaran pada saat itu? Jawabannya satu, karena mereka satu arah “memperingati hari kemerdekaan”.

Sayangnya, pada saat mayoritas hanya mengingat jasa-jasa para pahlawan, kita hanya menonton film-film dokomenter kemerdekaan, tanpa berpikir kenapa mereka bersama dan kenapa sekarang justru seakan-seakan bercerai berai? Prosesi hari kemerdekaan sepertinya hanya sebatas formalitas saja, agar bangsa dibilang tidak melupakan jasa para pendirinya. Padahal, memperingati hari kemerdekaan tidak hanya ingin melihat kembali perjuangan di masa itu, tapi juga memulai berjuang untuk menyatukan kembali bangsa yang bercerai berai. Ini yang sering dilupakan?

Satu hal yang mungkin menarik untuk kita lakukan pada saat hari kemerdekaan, mereka tidak perlu memakai pakaian yang sama saat upacara kemerdekaan, mereka tidak perlu seformal mungkin untuk memperngati seperti biasanya. Tapi, biarkan mereka merayakan kemerdekaan dengan adat dan budaya masing-masing baik di satu tempat atau di tempat yang berbeda. Ini bukan persoalan tidak seragam, tapi bagaimana bisa menerima meski berbeda. Sebab, keseragaman tidak melulu melahirkan perdamaian kalau di dalamnya masih lekat dengan kepentingan-kepentingan.

Contohnya banyak, islam sama islamnya pun saling menyalahkan, bagaimana bisa damai? Sekte-sekte yang lahir sama-sama memperjuangkan kebenaran menurut kelompoknya. Padahal, ada perkataan seperti ini; Ikhtilafu al ulama rahmatu al alamin atau ikhtilafu al ummati rahmatun. Dalam islam, perbedaan itu seharusnya menjadi rahmat bagi semua alam. Tidak perlu menyakinkan diri bahwa kelompkok ini yang benar dan kelompok itu yang salah, sebab kebenaran Tunggal hanya ada pada Tuhan.

Jadi yang membuat sesuatu yang satu dengan sesuatu yang lain itu bersebrangan yang disebabkan salah tafsir misalnya, itu hanya karena mereka tidak mau saling menerima dan mengakui tafsir lain kecuali tafsirnya sendiri. Budaya pun sama, mereka tidak berdamai karena mereka anggap budaya mereka saja yang benar dan tidak mau belajar pada budaya lain. Apakah itu sebatas angan? Tidak, itu adalah fakta yang terjadi saat ini. Maka, di momentum kemerdekaan ini adalah baik bila apa yang saya tawarkan itu dapat terlaksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar