Manusia diciptakan dengan potensi yang beragam. Apakah kemudian ia menjadi bodoh atau pintar—adalah pertanyaan “siapakah yang mendidiknya?”. Pertanyaan serupa sering kita dengar “siapa gurunya?” sebuah pertanyaan yang dilontarkan ketika melihat ada seorang anak yang mempunyai sifat tercela. Sebuah indikasi bahwa kerakter seorang anak dibentuk oleh seirang guru.
Jelas, anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Bahkan bisa jadi salah. Guru memang mempunyai peran penting dalam konstruksi mentalitas anak, tapi juga tidak patut menyerahkan sepenuhnya kepada guru. Ingat, orangtua, lingkungan sekitar merupakan ladang basah bagi mentalitas seorang anak. Mereka punya peran yang sama sebagaimana guru; untuk mengawasi dan membimbing menjadikan mentalitas anak semakin berkembang baik.
Maka sudah jadi rahasia umum, bahwa kecerdasan manusia juga tidak sepenuhnya pemberian Tuhan. Semua ada proses yang harus dilalui. Bila ada manusia yang cerdas sejak ia anak-anak atau bahkan balita, itu karena orangtua dan lingkungannya yang menjadikan demikian. Sebenarnya proses pembentukan karakter anak tidak serta merta ketika ia sudah lahir, banyak bergaul dengan orang-orang pintar, ada pembimbingan dari guru dan orangtua. Semua itu memang penting, tapi yang lebih penting lagi jauh sebelum ia dilahirkan, yaitu ketika masih dalam kandungan.
Dalam tradisi Islam wanita yang sedang hamil dianjurkan banyak beribadah dan berdoa. Bahkan sering-sering dibacakan al-qur’an untuk merangsang daya kecerdasan otaknya. Sebab, segumpal daging (janin) dalam perut perempuan itu mempunyai kepekaan terhadap apa pun terhadap aktivitas ibunya. Sehingga anak yang lahir menjadi anak yang shalih atau shalihah serta mempunyai intlektual yang tinggi.
Abu Daud dan Al-Tirmidzy meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah mengumandangkan Adzan di telinga Hasan Bin Ali ketika istri beliau (Fatimah) melahirkannya. Selain ada makna-makna religiusitas yang terkandung. Sikap Rasulullah tersebut juga menandakan bahwa pendengaran bayi saat itu sudah berfungsi.
Maka kemudian, salah satu tugas orang tua adalah memberi stimulus lewat pendengarannya sejak dalam kandungan. Pendengaran terbukti mampu mencondongkan pikiran manusia pada arah tertentu. Imam Syafi’i yang hafal Al-qur’an dalam usia muda, karena peran ibunya yang memperdengarkan Al-qur’an semenjak Imam Syafi’i masih dalam kandungan.
Selain dianjurkan menjaga kesehatan ruhani, wanita hamil juga dianjurkan menjaga kesehatan jasmani, semisal olah raga dan makan-makanan bergizi. Di mana hal itu juga berdampak pada kesehatan bayi. Dadang Hawari (2000) mengatakan, salah satu faktor dari tumbuh kembangnya mental intelektual dan emosional anak banyak ditentukan oleh perkembangan susunan syaraf pusat (otak) dan kondisi organ tubuh lainnya. Oleh karena pola pikir dan pola makan orang tua semasa mengandung sangat mempengaruhi mentalitas janinnya.
Ironisnya, banyak yang mengabaikan, seolah-olah IQ yang dimiliki anak adalah murni pemberian Tuhan. Padahal sebagaimana yang telah ditetapkan, bahwa Tuhan hanya memberikan ruh dan nyawa selebihnya adalah usaha manusia. Kecerdasan manusia bukan takdir layaknya kematian, melainkan diciptakan dan diusahakan.
Pembimbingan dari orangtua tentu tidak terputus di situ, melainkan harus terus berlanjut pada fase selanjutnya. Di usia 40 hari di bumi, biasanya bayi sudah dapat menggunakan indra penglihatannya. Juga penciuman, perabaan dan pengecapan. Di saat- saat seperti itu kepekaannya terhadap sesuatu yang dilihat sangat kuat. Sehingga, orang tua perlu memberikan hal-hal yang menarik dan unik agar bayi bisa cerdik. Jangan heran bila ada anak manusia yang ditaruh di kandang sapi tidak bisa berbicara layaknya manusia. Atau Tarzan yang hidupnya dalam hutan, hanya bisa bicara dengan sebangsa hewan.
Sydis seorang ahli psikis menunjukkan bahwa kalau anak menerima stimulasi yang kaya melalui fungsi penglihatannya, maka kecerdasannya akan tumbuh kembang secara pesat. Teori itu diterapkan kepada anaknya sendiri, yaitu William James Sydis dan terbukti di usia yang sangat muda dia sudah menjadi Profesor. Setali lurus dengan Zakiah Daradjat bahwa anak-anak belajar lewat penglihatan sebanyak 83%, pendengaran 11%, penciuman, pengecapan dan sentuhan 6% (H. Fuad Nashori, 2003 : 144).
Penglihatan dan pendengaran sangat mempengaruhi kecerdasan anak baik saat dalam kandungan atau pun pada fase-fase selanjutnya. Pada fase anak-anak, di mana saat semua indranya berfungsi dengan baik, akan tumbuh semakin peka terhadap lingkungannya. Melalui eksplorasi yang dilakukan terhadap dunia sekitar akan memperkuat dasar-dasar pengetahuan anak.
Oleh karena, pangkal dari semua daya pikir yang cerdas dan sikap yang bijak dalam diri manusia adalah tergantung pada prosesna asuhannya, lebih-lebih dari orangtua. Sehingga, ketika seorang anak tidak cerdas, tidak melulu memojokkan guru atau pun instansi pendidikan. Argumen-argumen di atas dapat dijadikan pijakan bahwa, pembentukan mentalitas sejak usia dini merupakan pendidikan yang paling penting dalam kehidupan manusia.
Pada saat itulah, proses pembidikan karakter manusia dimulai. Setidaknya dengan demikian telah mengurangi beban sekolah dalam mengembangkan dan menjaga potensi mental pengetahuan yang telah dimiliki. Sebab di usia yang masih rentan itu, mentalitas akan mudah hilang dan tidak terarah karena didikan dan pergaulan yang salah.
Jelas, anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Bahkan bisa jadi salah. Guru memang mempunyai peran penting dalam konstruksi mentalitas anak, tapi juga tidak patut menyerahkan sepenuhnya kepada guru. Ingat, orangtua, lingkungan sekitar merupakan ladang basah bagi mentalitas seorang anak. Mereka punya peran yang sama sebagaimana guru; untuk mengawasi dan membimbing menjadikan mentalitas anak semakin berkembang baik.
Maka sudah jadi rahasia umum, bahwa kecerdasan manusia juga tidak sepenuhnya pemberian Tuhan. Semua ada proses yang harus dilalui. Bila ada manusia yang cerdas sejak ia anak-anak atau bahkan balita, itu karena orangtua dan lingkungannya yang menjadikan demikian. Sebenarnya proses pembentukan karakter anak tidak serta merta ketika ia sudah lahir, banyak bergaul dengan orang-orang pintar, ada pembimbingan dari guru dan orangtua. Semua itu memang penting, tapi yang lebih penting lagi jauh sebelum ia dilahirkan, yaitu ketika masih dalam kandungan.
Dalam tradisi Islam wanita yang sedang hamil dianjurkan banyak beribadah dan berdoa. Bahkan sering-sering dibacakan al-qur’an untuk merangsang daya kecerdasan otaknya. Sebab, segumpal daging (janin) dalam perut perempuan itu mempunyai kepekaan terhadap apa pun terhadap aktivitas ibunya. Sehingga anak yang lahir menjadi anak yang shalih atau shalihah serta mempunyai intlektual yang tinggi.
Abu Daud dan Al-Tirmidzy meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah mengumandangkan Adzan di telinga Hasan Bin Ali ketika istri beliau (Fatimah) melahirkannya. Selain ada makna-makna religiusitas yang terkandung. Sikap Rasulullah tersebut juga menandakan bahwa pendengaran bayi saat itu sudah berfungsi.
Maka kemudian, salah satu tugas orang tua adalah memberi stimulus lewat pendengarannya sejak dalam kandungan. Pendengaran terbukti mampu mencondongkan pikiran manusia pada arah tertentu. Imam Syafi’i yang hafal Al-qur’an dalam usia muda, karena peran ibunya yang memperdengarkan Al-qur’an semenjak Imam Syafi’i masih dalam kandungan.
Selain dianjurkan menjaga kesehatan ruhani, wanita hamil juga dianjurkan menjaga kesehatan jasmani, semisal olah raga dan makan-makanan bergizi. Di mana hal itu juga berdampak pada kesehatan bayi. Dadang Hawari (2000) mengatakan, salah satu faktor dari tumbuh kembangnya mental intelektual dan emosional anak banyak ditentukan oleh perkembangan susunan syaraf pusat (otak) dan kondisi organ tubuh lainnya. Oleh karena pola pikir dan pola makan orang tua semasa mengandung sangat mempengaruhi mentalitas janinnya.
Ironisnya, banyak yang mengabaikan, seolah-olah IQ yang dimiliki anak adalah murni pemberian Tuhan. Padahal sebagaimana yang telah ditetapkan, bahwa Tuhan hanya memberikan ruh dan nyawa selebihnya adalah usaha manusia. Kecerdasan manusia bukan takdir layaknya kematian, melainkan diciptakan dan diusahakan.
Pembimbingan dari orangtua tentu tidak terputus di situ, melainkan harus terus berlanjut pada fase selanjutnya. Di usia 40 hari di bumi, biasanya bayi sudah dapat menggunakan indra penglihatannya. Juga penciuman, perabaan dan pengecapan. Di saat- saat seperti itu kepekaannya terhadap sesuatu yang dilihat sangat kuat. Sehingga, orang tua perlu memberikan hal-hal yang menarik dan unik agar bayi bisa cerdik. Jangan heran bila ada anak manusia yang ditaruh di kandang sapi tidak bisa berbicara layaknya manusia. Atau Tarzan yang hidupnya dalam hutan, hanya bisa bicara dengan sebangsa hewan.
Sydis seorang ahli psikis menunjukkan bahwa kalau anak menerima stimulasi yang kaya melalui fungsi penglihatannya, maka kecerdasannya akan tumbuh kembang secara pesat. Teori itu diterapkan kepada anaknya sendiri, yaitu William James Sydis dan terbukti di usia yang sangat muda dia sudah menjadi Profesor. Setali lurus dengan Zakiah Daradjat bahwa anak-anak belajar lewat penglihatan sebanyak 83%, pendengaran 11%, penciuman, pengecapan dan sentuhan 6% (H. Fuad Nashori, 2003 : 144).
Penglihatan dan pendengaran sangat mempengaruhi kecerdasan anak baik saat dalam kandungan atau pun pada fase-fase selanjutnya. Pada fase anak-anak, di mana saat semua indranya berfungsi dengan baik, akan tumbuh semakin peka terhadap lingkungannya. Melalui eksplorasi yang dilakukan terhadap dunia sekitar akan memperkuat dasar-dasar pengetahuan anak.
Oleh karena, pangkal dari semua daya pikir yang cerdas dan sikap yang bijak dalam diri manusia adalah tergantung pada prosesna asuhannya, lebih-lebih dari orangtua. Sehingga, ketika seorang anak tidak cerdas, tidak melulu memojokkan guru atau pun instansi pendidikan. Argumen-argumen di atas dapat dijadikan pijakan bahwa, pembentukan mentalitas sejak usia dini merupakan pendidikan yang paling penting dalam kehidupan manusia.
Pada saat itulah, proses pembidikan karakter manusia dimulai. Setidaknya dengan demikian telah mengurangi beban sekolah dalam mengembangkan dan menjaga potensi mental pengetahuan yang telah dimiliki. Sebab di usia yang masih rentan itu, mentalitas akan mudah hilang dan tidak terarah karena didikan dan pergaulan yang salah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar