Minggu, 10 Januari 2016

Pers dalam Fragmen Sejarah Indonesia

Share it Please


Membaca buku Sejarah Kecil, Patite Histoire Indonesia (jilid 2) karya Rosihan Anwar. Saya seakan memasuki masa silam Indonesia yang terpotong-potong. Sebagaimana potret yang tak pernah utuh, hanya sisi-sisi tertentu saja yang menjadi perhatian. Seperti beberapa jilid lainnya, Rosihan Anwar menyajikan fragmen-fragmen sejarah Indonesia. Dan dalam buku ini, lebih kecil lagi, mengenai keterlibatan pers dan wartawan dalam perjalanan Indonesia.
Sepanjang sejarah Indonesia, jauh sebelum Indonesia merdeka. Pers diam-diam ikut ambil peran di dalamnya. Pers mempunyai misi dan tugas yang cukup besar, pada masa kolonial Belanda  pers serta wartawan Indonesia memimpin rakyat supaya mempunyai semangat juang untuk merdeka. Pada masa jajahan Jepang pers menambahkan tugasnya, yaitu menyebar luaskan
pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (hal. 28).
Jelas, sejarah perjuangan Indonesia tak lepas dari perjalanan pers dan elemen-elemennya. Orang-orang pers berjuang sebagai provokator, mengobarkan semangat bangsa. Misi itu tidak sia-sia, pada masa itu pers merupakan salah satu ancaman yang tak kecil bagi penjajah. Di zaman akhir jajahan Jepang, semangat kebangsaan kian menggelora dan bahasa Indonesia telah digunakan di berbagai daerah. Semangat juang pun tak dapat di pendam, terbukti Jepang tidak lama membuat kisah kelam. Diakui atau tidak, hal itu berkat kerja pers dan wartawan yang mengkonstruk paradigma rakyat Indonesia.
Tapi, sepertinya kerja keras itu tidak begitu terlihat oleh rakyat biasa atau pun penguasa. Sebab, pers tidak seperti pejuang-pejuang lain semisal TNI yang mengorbankan darah dan nyawa. Padahal yang menyulut api semangat bangsa adalah kerjaan orang-orang pers.
Disadari tau tidak, pers rupanya senjata terampuh setiap negara, begitu pula dalam wilayah yang lebih kecil. Saat ini, setelah pers selesai beradu kekuatan dengan penjajah. Pers menjadi senjata ampuh parpol yang ingin berkuasa, entah apakah ia masih mengusung nasionalisme layaknya sewaktu berperang untuk merdeka? Dan itu sah dan tak masalah, atau yang terjadi sebaliknya, menjadi penjajah bagi negaranya sendiri? Secara tersirat, hal itu yang ditanyakan Rosihan Anwar sebagai orang yang banyak terlibat dalam perjuangan pers menjalankan misinya.
Bukan suatu kekeliruan bila dalam buku ini Rosihan Anwar menulis “Wartawan, engkau pahlawan dalam hatiku” sutu bab judul yang membahas para wartawan yang ikut andil dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia 1945.
Pasalnya, Sukarno dan Hatta di culik oleh segerombolan pemuda di bawa ke Rengasdengklok untuk memproklamasikan kemerdekaan. Mereka berdua diminta untuk menandatangani teks Proklamasi Kemerdekaan. Dengan begitu, para pemuda pun melawan tentara Inggris di Surabaya pada 10 November 1945. Maka, Bung Hatta dalam pidatonya mengatakan dengan penuh emosi “Pemuda, Engkau pahlawan dalam hatiku”. Dimana, pada kejadian tersebut Rosihan Anwar sendiri yang meliputnya sebagai saksi sejarah.
Seperti beberapa tulisan lainya dalam buku ini, ada nama-nama Rosihan Anwar sebagai pelaku atau saksi sejarah pada masa itu. Misalnya, dalam cerita Usmar Ismail pendiri Pusat Film Nasional Indonesia (perfini) 30 Maret 1950, Rosihan Anwar juga menulis keterlibatannya dalam pementasan teater yang disutradarai Usmar Ismail. Ada nada-nada narsisme dalam penuturannya, toh sekalipun itu tak terlalu bermasalah. Karena pemeran utama grup teater Maya adalah Rosihan Anwar, sahabat dekat dan teman sekelas di AMS, maka ia (Usmar Ismail) memberikan kebebasan cukup banyak dalam menginterpretasi peran yang dimainkan (hal. 56).
Buku ini tak ubahnya kisah Rosihan Anwar sebagai wartawan yang terlibat langsung dalam banyak kejadian. Tak heran bila dia memberi judul Sejarah Kecil, Patite Histoire Indonesia. Sebab, hanya potongan kecil dari sejarah Indonesia yang besar. Tak banyak rujukan yang dia pakai, barangkali lebih berdasarkan pengalaman pribadinya. Sekalipun begitu ini bukan suatu kesalahan yang akut.
Tapi, jelas tidak semata-mata mendengarkan paparan Rosihan Anwar. Ada sesuatu yang patut dipelajari dari setiap sejarah. Entah itu kesalahan atau hal baik yang menyenangkan. Pers sekarang yang terlena dengan kekuasaan, terdapat banyak nilai luhur telah dilupakan. Pers masa lalu menegakkan proklamasi 17 Agustus, membela Republik Indonesia terhadap serangan kolonialisme dan imperialisme. Inilah yang perlu ditekankan, dan menjadi nilai yang tak pernah hilang.
Nilai-nilai itulah yang ingin disampaikan Rosihan Anwar dari sejarah, oleh karena itulah barangkali dia tak peduli dengan teknik penulisan sejarah. Sehingga, dia menyampaikan dalam bentuk narasi potongan-potongan cerita. Yang terpenting adalah, bagaimana pers dan wartawan mempunyai prinsip nasionalisme dan keadilan yang tinggi. Di bagian awal, Rosihan Anwar menyajikan beberapa pokok nilai yang harus dilaksana pers dan elemen-elemennya. Jadi, bagaimana pun bentuknya, buku ini penting dikonsumsi pekerja pers di Indonesia. Bahkan bagus untuk rujukan kurikulum pers. Semoga!

Judul Buku        : Sejarah Kecil, Petite Histoire Indonesia (jilid 2)
Penulis              : Rosihan Anwar
Penerbit            : Penerbit Buku Kompas
Cetakan I & II  : 2009
Cetakan III       : Januari 2014
Tebal                : ix + 348  halaman
ISBN                : 978-979-709-428-7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar