Logika merupakan salah satu jalan manusia memecahkan persoalan yang dilematis, oleh karena logika tidak hanya perlu dipelajari oleh para filsuf atau akademisi. Melainkan, logika penting diketahui oleh mereka yang ingin menemukan kebenaran-kebenaran yang logis. Atau pun melogiskan kebenaran. Itulah faktor utama logika dipelajari. Sekalipun, kadang kala logika tidak mampu menjamah kebenaran iman. Ini persoalan lain.
Secara harfiah logika searti dengan mantiq dalam bahasa Arab, yang berarti perkataan, ucapan atau pikiran yang diucapkan atau dikatakan. Dalam buku ini, Hidanul Ichwan Harun mendevinisikan logika sebagai suatu ilmu yang mempelajari norma-norma menalar yang benar, agar memperoleh pengetahuan yang baru (hal. 4). Dengan begitu berarti, logika semisal pisauyang digunakan untuk mengupas sesuatu. Logika merupakan alat untuk mengupas, dan meluruskan penalaran-penalaran yang salah.
Potensi manusia untuk menalar atau berpikir itu sudah ada sejak ia dilahirkan bahkan. Sebagaimana ia (manusia) berpotensi sebelum ia dilahirkan. Kemampuan berpikir atau mengetahui itu akan menjadi keliru bila tidak ada bimbingan dari logika berpikir. Bahkan sesuatu yang imajiner sekalipun, ia membutuhkan kerangka logika. Puisi misalnya, yang harus patuh pada lensia puitika, sebuah aturan logis agar puisi dapat bermakna dan dipahami, baik dari unsur estetiknya, atau subtansinya.
Niscaya manusia adalah makhluk sosial, di mana ia akan menghadapi segala bentuk peristiwa dualistik yang butuh dicerna, butuh diputuskan. Sehingga logika dibutuhkan untuk mengetahui apakah sesuatu yang diputuskan benar atau salah. Lebih-lebih dalam lingkaran akademis, yang sarat akan analisis ilmiah dan filsafat. Tak hayal peran logika menjadi sangat penting, di samping hal lain yang juga penting dalam memperoleh pengetahuan.
Hidanul Ichwan menjabarkan bahwa dalam berpikir manusia bergerak secara rohani dengan akal budinya. Dari satu putusan pikiran bergerak ke putusan yang lain dan bahkan bergerak ke arah putusan yang baru (hal. 61). Hidup bagi manusia tak lain dari himpunan keputusan-keputusan yang tiada berakhir. Di mana, keputusan-keputusan tersebut tidak hanya dalam bentuk bahasa tulis atau lisan, melainkan juga tindakan. Sebab, bahasa mengandung simbol-simbol yang memang harus dipecahkan oleh logika.
Dalam menentukan (memutuskan) suatu perkara dalam realitas ada beberapa perinsip yang harus dipegang. Oleh karena dalam berpikir kita harus tetap mengikat hukum-hukum realitas. Sebab putusan yang diambil tanpa berpegangan pada prinsip logis, ia tidak akan menemukan pengetahuan baru.
Di antara beberapa prinsip itu adalah; 1. Perinsipium identitas (asas Kesamaan), 2. Perinsipium individuasionis (asas keindividuan), 3. Perinsipium kontradiktoris (asas pertentangan), 4. Perinsipium eklusi terti (asas menolak kemungkinan), 5. Perinsipium rationis sufficientis (kecukupan) (hal.62). Semua perinsip ini merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan suatu putusan, baik dalam metode induksi ataupun deduksi.
Keputusan-keputusan yang diambil baik dari umum ke khusus (deduksi) atau dari khusus ke umum (induksi) adalah peristiwa yang saling berkaitan. Bahkan, keputusan yang khusus itu bukan lahir dari tiada sama sekali, namun ia berada dalam lingkup keputusan yang umum. Misal, Penyair akan mati (keputusan khusus). Sementara keputusan umumnya, manusia akan mati. Karena penyair juga manusia makan ia pun akan mati. Jadi keputusan khusus sebagai penegasan dari keputusan yang telah ada (umum).
Salah satu contoh tersebut merupakan bentuk silogisme. Di mana, buku ini ditulis dalam rangka menjelaskan bentuk-bentuk silogisme dan induksi. Hidanul Ichwan tidak hanya menjabarkan silogisme sacara devinitif dan contoh-contoh. Akan tetapi, ia juga menjelaskan metode-metode agar kita dapat berpikir logis dan menemukan pengetahuan baru dengan menggunakan silogisme, dengan mengambil putusan yang tepat.
Sejauh ini tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengetahui logika, karena setiap kali kita berkata dan membaca (melihat, mencerna) kita harus mengoprasikan logika agar menemukan makna dari apa yang kita lihat. Jika tidak, semua kejadian atau peristiwa akan sia-sia. Di sinilah peran penting ilmu logika itu diperlukan. Bukan sebatas pada wilayah yang bermbau akademik dan formal. Sebab manusia diciptakan untuk berpikir, manusia tidak pernah berhenti melakukan proses berpikir mulai dari bangun sampai tidur kembali, baik yang diucapkan atau pun yang disimpannya dalam pikiran.
Dengan membaca buku “Logika Keilmuan, Pengantar Silogisme dan Induksi” yang ditulis DR. Hidanul Ichwan Harun ini, pembaca akan lebih memahami bagaimana logika itu beroperasi dalam aktivitas keseharian kita. Hidanul Ichwan juga melengkapi dengan berbagai contoh pada setiap bahasan yang terkait dengan deduksi dan induksi, di mana ia memfokuskan pada dua variabel logika tersebut dan juga silogisme.
Judul Buku : Logika Keilmuan, Pengantar Silogisme dan Induksi
Penulis : DR. Hidanul Ichwan Harun
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Agustus 2014
Tebal : xi + 108 halaman
ISBN : 978-602-229-366-8
Secara harfiah logika searti dengan mantiq dalam bahasa Arab, yang berarti perkataan, ucapan atau pikiran yang diucapkan atau dikatakan. Dalam buku ini, Hidanul Ichwan Harun mendevinisikan logika sebagai suatu ilmu yang mempelajari norma-norma menalar yang benar, agar memperoleh pengetahuan yang baru (hal. 4). Dengan begitu berarti, logika semisal pisauyang digunakan untuk mengupas sesuatu. Logika merupakan alat untuk mengupas, dan meluruskan penalaran-penalaran yang salah.
Potensi manusia untuk menalar atau berpikir itu sudah ada sejak ia dilahirkan bahkan. Sebagaimana ia (manusia) berpotensi sebelum ia dilahirkan. Kemampuan berpikir atau mengetahui itu akan menjadi keliru bila tidak ada bimbingan dari logika berpikir. Bahkan sesuatu yang imajiner sekalipun, ia membutuhkan kerangka logika. Puisi misalnya, yang harus patuh pada lensia puitika, sebuah aturan logis agar puisi dapat bermakna dan dipahami, baik dari unsur estetiknya, atau subtansinya.
Niscaya manusia adalah makhluk sosial, di mana ia akan menghadapi segala bentuk peristiwa dualistik yang butuh dicerna, butuh diputuskan. Sehingga logika dibutuhkan untuk mengetahui apakah sesuatu yang diputuskan benar atau salah. Lebih-lebih dalam lingkaran akademis, yang sarat akan analisis ilmiah dan filsafat. Tak hayal peran logika menjadi sangat penting, di samping hal lain yang juga penting dalam memperoleh pengetahuan.
Hidanul Ichwan menjabarkan bahwa dalam berpikir manusia bergerak secara rohani dengan akal budinya. Dari satu putusan pikiran bergerak ke putusan yang lain dan bahkan bergerak ke arah putusan yang baru (hal. 61). Hidup bagi manusia tak lain dari himpunan keputusan-keputusan yang tiada berakhir. Di mana, keputusan-keputusan tersebut tidak hanya dalam bentuk bahasa tulis atau lisan, melainkan juga tindakan. Sebab, bahasa mengandung simbol-simbol yang memang harus dipecahkan oleh logika.
Dalam menentukan (memutuskan) suatu perkara dalam realitas ada beberapa perinsip yang harus dipegang. Oleh karena dalam berpikir kita harus tetap mengikat hukum-hukum realitas. Sebab putusan yang diambil tanpa berpegangan pada prinsip logis, ia tidak akan menemukan pengetahuan baru.
Di antara beberapa prinsip itu adalah; 1. Perinsipium identitas (asas Kesamaan), 2. Perinsipium individuasionis (asas keindividuan), 3. Perinsipium kontradiktoris (asas pertentangan), 4. Perinsipium eklusi terti (asas menolak kemungkinan), 5. Perinsipium rationis sufficientis (kecukupan) (hal.62). Semua perinsip ini merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan suatu putusan, baik dalam metode induksi ataupun deduksi.
Keputusan-keputusan yang diambil baik dari umum ke khusus (deduksi) atau dari khusus ke umum (induksi) adalah peristiwa yang saling berkaitan. Bahkan, keputusan yang khusus itu bukan lahir dari tiada sama sekali, namun ia berada dalam lingkup keputusan yang umum. Misal, Penyair akan mati (keputusan khusus). Sementara keputusan umumnya, manusia akan mati. Karena penyair juga manusia makan ia pun akan mati. Jadi keputusan khusus sebagai penegasan dari keputusan yang telah ada (umum).
Salah satu contoh tersebut merupakan bentuk silogisme. Di mana, buku ini ditulis dalam rangka menjelaskan bentuk-bentuk silogisme dan induksi. Hidanul Ichwan tidak hanya menjabarkan silogisme sacara devinitif dan contoh-contoh. Akan tetapi, ia juga menjelaskan metode-metode agar kita dapat berpikir logis dan menemukan pengetahuan baru dengan menggunakan silogisme, dengan mengambil putusan yang tepat.
Sejauh ini tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengetahui logika, karena setiap kali kita berkata dan membaca (melihat, mencerna) kita harus mengoprasikan logika agar menemukan makna dari apa yang kita lihat. Jika tidak, semua kejadian atau peristiwa akan sia-sia. Di sinilah peran penting ilmu logika itu diperlukan. Bukan sebatas pada wilayah yang bermbau akademik dan formal. Sebab manusia diciptakan untuk berpikir, manusia tidak pernah berhenti melakukan proses berpikir mulai dari bangun sampai tidur kembali, baik yang diucapkan atau pun yang disimpannya dalam pikiran.
Dengan membaca buku “Logika Keilmuan, Pengantar Silogisme dan Induksi” yang ditulis DR. Hidanul Ichwan Harun ini, pembaca akan lebih memahami bagaimana logika itu beroperasi dalam aktivitas keseharian kita. Hidanul Ichwan juga melengkapi dengan berbagai contoh pada setiap bahasan yang terkait dengan deduksi dan induksi, di mana ia memfokuskan pada dua variabel logika tersebut dan juga silogisme.
Judul Buku : Logika Keilmuan, Pengantar Silogisme dan Induksi
Penulis : DR. Hidanul Ichwan Harun
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Agustus 2014
Tebal : xi + 108 halaman
ISBN : 978-602-229-366-8

Tidak ada komentar:
Posting Komentar